Yerusalem (ANTARA News) - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Kamis, enggan menanggapi tentangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, atas waktu satu tahun bagi pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat ke Yerusalem.

Pejabat di kantor Netanyahu mengatakan, Netanyahu menyadari pembangunan kedutaan baru akan memakan waktu bertahun-tahun, namun yakin Washington mempertimbangkan tindakan lain bisa mempercepat pembukaan kedutaan baru.

Pejabat itu, yang menolak disebutkan namanya, tidak menyebutkan langkah tersebut atau tanggal kedutaan itu mulai bekerja. Sebelumnya, media Israel berpraduga bahwa duta besar Amerika Serikat akan bekerja paruh waktu dari tempat sementara di Yerusalem sebelum kantor baru disiapkan.

Trump mengubah kebijakan berdasawarsa Amerika Serikat pada awal Desember dengan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan merumuskan pemindahan kedutaan dari Tel Aviv, yang membahayakan usaha perdamaian Timur Tengah dan mengganggu dunia Arab serta sekutu Barat-nya.

Menurut wartawan Israel, yang bersama Netanyahu dalam perjalanan ke India pada Rabu, ia mengatakan, "Penilaian solid saya adalah bahwa hal itu akan berjalan lebih cepat dari perkiraan Anda, dalam waktu satu tahun dari sekarang."

Ditanya tentang komentar Netanyahu, Trump mengatakan kepada Reuters bahwa kondisinya tidak demikian. "Pada akhir tahun? Kita membicarakan skenario yang berbeda, maksud saya jelas itu akan bersifat sementara Kami tidak benar-benar melihat itu, itu tidak."

Pejabat Israel, yang menanggapi ucapan Trump, mengatakan: "Presiden dan perdana menteri tidak mengatakan apapun yang berbeda."

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, bulan lalu menyatakan, pemindahan kedutaan itu mungkin paling cepat terlaksana tiga tahun ke depan dan itu merupakan hal cukup ambisius, menjadi kerangka waktu yang oleh pejabat pemerintahan dikaitkan dengan logistik untuk menemukan dan mengamankan sebuah situs serta mengatur perumahan untuk diplomat.

Yerusalem adalah tempat suci bagi tiga agama, yakni Islam, Yahudi dan Kristen. Bangsa Palestina menginginkan Yerusalem Timur, yang direbut Israel dalam perang Arab-Israel 1967 dan dicaplok dalam langkah tidak diakui secara internasional, sebagai ibukota negara masa depan mereka.