Jakarta (ANTARA News) - Tokoh lintas agama dan masyarakat Indonesia menolak keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

"Ini (pernyataan bersama dari tokoh lintas agama dan masyarakat) juga menunjukkan bahwa kami para elemen rakyat Indonesia lintas agama, kelompok, suku dan sebagainya memberikan dukungan penuh kepada rakyat Palestina. Kita semua berada di belakang perjuangan rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri, apalagi bagi umat Islam, Yerusalem adalah kota suci," kata Ketua Prakarsa Persahabatan Indonesia-Palestina (PPIP) Din Syamsuddin, di Jakarta Selatan, Senin.

Hal itu disampaikannya dalam Pertemuan Para Tokoh Lintas Agama dan Masyarakat untuk Menolak Keputusan Sepihak Donald Trump atas Yerussalem di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) di Kebayoran Baru.

Menurutnya, dukungan bangsa Indonesia terhadap perjuangan Palestina dari pendudukan Israel adalah bentuk dari sebuah bangsa yang cinta damai, keadilan dan kasih sayang.

Dalam acara yang diadakan oleh PPIP itu, tokoh lintas agama dan masyarakat di Indonesia menyatakan empat pandangan dan sikap terhadap keputusan Trump tersebut.

Dalam pernyataan bersama yang dibacakan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di? Indonesia Pendeta Gultom, mereka menyatakan keputusan Presiden Donald Trump itu sebagai bentuk agresi, aneksasi, dan provokasi, serta radikalisme nyata, yang melanggar ketentuan-ketentuan internasional termasuk Resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menegaskan status quo Yerusalem.

Kedua, mereka menilai keputusan Presiden Donald Trump tersebut secara nyata menghentikan dan menafikan proses perdamaian Israel- Palestina yang telah berlangsung selama ini, dan akan mendorong reaksi global dan membawa dampak sistemik terhadap stabilitas dan keamanan dunia.

Ketiga, mereka mendesak PBB untuk menolak keputusan sepihak Trump dan untuk menegakkan Resolusi-resolusi PBB atas Israel dan menjatuhkan sanksi tegas atas pelanggarannya.

Keempat, mereka menyerukan masyarakat internasional lintas agama dan bangsa untuk bersatu padu menolak keputusan Presiden AS dan mendesak yang bersangkutan untuk membatalkannya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Abdullah Djaidi yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al- Islamiyyah mengharapkan agar pernyataan dan sikap dari Presiden Donald Trump itu dapat diurungkan dan tidak dilaksanakann karena dapat memperkeruh situasi di Timur Tengah khususnya Palestina.

"Sikap dan tindan Presiden Donald Trump ini merupakan sesuatu pelanggaran terhadap Resolusi PBB dan hak-hak asasi rakyat Palestina yang sebaiknya tidak diintervensi oleh pihak lain," ujarnya.

Pihaknya juga mengapresiasi sikap pemerintah Indonesia yang responsif terhadap masalah tersebut.