Denpasar (ANTARA News) - Masyarakat Pulau Bali semula adalah masyarakat yang bergiat di dunia pertanian yang kemudian berubah menjadi masyarakat penyedia jasa pariwisata. Kini Gunung Agung kembali meletus, yang bagi Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, menjadi momentum bagi masyarakat setempat untuk kembali mencintai sektor pertanian.

"Harus mulai berpikir jika letusan ini berkelanjutan, bagaimana anak yang bekerja di dunia pariwisata itu tidak nganggur. Mungkin ini momentum kita untuk kembali ke pertanian," kata Pastika, saat menghadiri Rapat Gabungan dengan jajaran DPRD Provinsi Bali, di Denpasar, Senin.

Pemerintahan Provinsi Bali berharap agar jajaran organisasi perangkat daerah setempat mulai berpikir untuk bisa membuka peluang bagi generasi muda Bali yang kemungkinan nanti harus kehilangan pekerjaan di bidang pariwisata.

Mereka juga mempunyai sejumlah lahan kosong yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memelihara ternak. Lahan milik pemerintah Provinsi Bali yang cukup luas di antaranya di Pekutatan, Kabupaten Jembrana sekitar 1.100 Hektare, di Kabupaten Buleleng, seluas 650 Hektare.


Maklum, harga tanah --sewa, apalagi beli-- sangat mahal.

"Jadi saya pikir, mari kita berpikir dengan tenang, jangan panik dulu. Mari kita rundingkan apa yang harus kita kerjakan," ujar Pastika.

Apalagi sebenarnya kebutuhan di sektor pertanian cukup tinggi dan itu belum bisa dipenuhi. Dia memprediksi kebutuhan telur perhari di Bali saja mencapai satu juta butir, belum lagi kebutuhan daging dan sayur-sayuran.

"Anak-anak kita yang tidak bisa bekerja (di sektor pariwisata-red) itu, mungkin saatnya pulang kampung menggarap tanahnya, pelihara ayam atau bebek mungkin ke sana arahnya. Saya sedang berpikir kalau kondisi ini berkelanjutan, kelihatannya sih akan begini-begini terus," ucapnya.

Pensiunan polisi itu sangat mengharapkan agar status vulkanik Gunung Agung dapat menurun dari posisi Awas saat ini, meskipun dari perhitungan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi menyatakan magma yang mengisi kawah Gunung Agung terus meningkat sehingga dalam waktu yang tidak lama berpotensi kembali meletus.

"Kita khan selalu mengatakan tidak boleh meninggalkan pertanian. Jadi mungkin ini momentumnya kita kembali ke pertanian," kata Pastika.