Juba, Sudan Selatan (ANTARA News) - Sementara kerusuhan berlanjut di beberapa wilayah Sudan Selatan, sebagian profesional kesehatan di negara yang dicabik perang itu tetap berkomitmen untuk menyelamatkan nyawa meskipun mereka dipaksa bekerja dalam kondisi sulit dan kekurangan obat.


Michael Mayen Peter (31), seorang bidan pria di Rumah Sakit Wau Teaching di Negara Bagian Wau di bagian barat-laut Sunda Selatan, mengatakan kepada Xinhua dalam satu wawancara baru-baru ini bahwa mereka harus bekerja siang dan malam dalam kelompok kerja di ruang yang penuh sesak di tengah kekurangan obat dan alat. Meskipun demikian, mereka berusaha menyelamatkan banyak ibu yang melahirkan dari kesakitan dan juga merawat beberapa kasus penyakit yang mestinya bisa dicegah di rumah sakit terbesar kedua di negeri tersebut.
"Kami tak memiliki cukup bidan dan perawat untuk menolong di ruang ibu yang baru melahirkan. Misalnya, pada satu hari ruang itu penuh dengan ibu yang baru melahirkan belum lagi perawatan pasca-kelahiran," kata Mayen di Juba.
Ia menambahkan mereka kekurangan staf dan peralatan untuk merawat pasien penyakit lain yang umum seperti malaria dan sipilis sementara obat tak tersedia buat pasien dalam waktu yang tepat.
Mayen adalah satu dari sebanyak 400 bidan dan perawat bersertifikat di negara termuda tersebut, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin pagi. Mereka telah lulus pada 2015 di Wau School of Nurse and Midwifery setelah bergabung pada 2013.



Stigma budaya
Ia menyatakan tak terpengaruh oleh praduga budaya, dan sangat menyadari bahwa kebanyakan orang di dalam masyarakatnya belum sepenuhnya menghargai peran yang dimainkan oleh bidan, sebab sejumlah orang masih menggunakan cara kelahiran tradisional.
Upaya yang berkelanjutan itu oleh para bidan seperti Mayen, yang didukung oleh dana dari donor sejak 2012, telah membantu meningkatkan jumlah perawat dan bidan yang menghasilkan berkurangnya kematian ibu dari 2.059 jadi 789 per 100.000 anak yang dilahirkan dalam keadaan hidup.
"Saya termotivasi sebab para ibu di negara kami meninggal akibat komplikasi yang sebenarnya bisa dicegah. Angka kematian ibu sangat tinggi. Pada saat saya menyelesaikan sekolah menengah saya, saya memutuskan untuk bergabung dengan lembaga keperawatan dan kebidanan agar bisa membantu masyarakat saya," kata Mayen. Ia bangga karena bisa membantu para ibu melahirkan lebih dari 100 bayi.
Ia menambahkan, "Di masyarakat saya, mereka merasa saya tak memiliki pengetahuan mengenai (kebidanan) ini karena ketidak-tahuan, tapi kami terbiasa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga banyak lelaki dapat bergabung dengan kami untuk menerapkan ketrampilan mereka."
Tobia Thiep Akot (34) adalah bidan pria lain di Pusat Kesehatan Kabupaten Aweil Utara di Mayen di Wilayah Bhar El Ghazal; ia telah menjadi bidan selama enam tahun. Ia mengatakan mereka telah berhasil membantu mengurangi angka kematian ibu, yang dulu tinggi, di lima kabupaten di wilayah tersebut.
Mereka melancarkan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat dengan mencegah pernikahan dini, yang ia katakan merupakan penyebab utama kematian ibu.
Akot menambahkan pria berpendidikan sangat sedikit di Sudan Selatan, sehingga menjadi alasan di balik komitmennya untuk membantu kelahiran yang selamat buat para ibu.
Menurut Organisasi Pendidikan, Sains dan Budaya PBB (UNESCO), Sudan Selatan memiliki 27 persen angka melek huruf.
(Uu.C003)