Jakarta (ANTARA News) - Dosen Universitas Airlangga Surabaya yang juga pengamat politik Airlangga Pribadi Kusman mengatakan kontestasi politik dalam pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur tidak perlu ditanggapi dengan tensi tinggi, terutama di kalangan kekuatan politik di lingkaran istana.

"Karena baik pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas maupun Khofifah-Emil Dardak keduanya adalah pasangan yang berangkat dari lingkaran koalisi di internal kekuasaan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dari logika tarikan kekuasaan nasional dan lokal, kata Airlangga, hal ini berarti kekuatan politik Presiden Joko Widodo tidak akan rugi dengan naiknya kedua pasangan tersebut.

Oleh karena itu, lanjut doktor lulusan Murdoch University, Australia, ini, tidak perlu ada komentar berlebihan seperti Khofifah dan Emil telah mengkhianati presiden.

Apalagi, kata dia, Khofifah Indar Parawansa selama menjabat sebagai menteri sosial juga secara publik dinilai memiliki kinerja yang bagus bahkan cenderung memiliki capaian sangat baik.

"Hal ini justru memperlihatkan kepanikan yang tidak perlu atau menurunnya kepercayaan salah satu kekuatan politik," katanya.

Dengan memahami pilgub secara lebih tenang, lanjut Airlangga, hal ini justru akan lebih membantu penciptaan pilgub yang damai, bersih, dan berkualitas.

Terkait dukungan Partai Demokrat ke kubu Khofifah-Emil, menurut dia justru dapat dibaca sebagai upaya PD untuk membangun jalur komunikasi kepada pasangan calon yang mendapat restu dari Presiden Jokowi.

"Hal ini justru positif karena akan membantu proses komunikasi di tingkat elite dan membawa pada stabilitas politik yang lebih baik," katanya.

(T.S024/B/T007)