Jakarta (ANTARA News) - Baru-baru ini, CEO Uber Dara Khosrowshahi mengakui bahwa perusahaan transportasi berbasis aplikasi online yang ia pimpin menjadi korban peretasan di tahun 2016 lalu.

Pengakuan itu ia sampaikan melalui siaran pers yang dimuat dalam situs resmi Uber. Menanggapi insiden tersebut, Head of Anti-Malware Research Team di Kaspersky Lab, Vyacheslav Zakorzhevsky, mengatakan bahwa hal itu menjadi bukti lain bahwa saat ini para penjahat siber memfokuskan dan mengarahkan usaha penyerangan mereka lebih kepada perusahaan besar.

"Dan nampaknya akhir-akhir ini tren ini terus meningkat," ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

(Baca juga: Peretas curi data penumpang dan sopir Uber)

Menurut Zakorzhevsky, insiden pelanggaran data tersebut memiliki konsekuensi di mana informasi pribadi dapat jatuh ke tangan penyusup. Data yang diakses oleh penyusup dapat digunakan untuk serangan lebih lanjut terhadap pengguna, dengan menyebarkan malware atau jenis spionase siber.

Sebagai contoh, penyerang bisa menjual database curian yang berisi informasi pribadi di pasar gelap, di mana terdapat permintaan yang tinggi akan hal ini.

"Tahun ini kami melihat adanya peningkatan aktivitas kejahatan siber yang menargetkan aplikasi mobile ride-sharing yang populer. Layanan semacam itu akan tetap menjadi target yang menarik, karena kredensial dan data sensitif yang mereka miliki," kata Zakorzhevsky.

"Akses terhadap informasi ini dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar bagi pengguna namun memiliki manfaat yang tinggi bagi para penjahat," sambung dia.

Oleh karena itu, Zakorzhevsky menyarankan agar para pengguna memperhatikan pesan masuk yang dikirim melalui e-mail atau SMS.

Dia juga menyarankan untuk tidak menge-klik tautan yang mencurigakan, dan menghindari pemasangan aplikasi dari sumber yang tidak dikenal.