Manila (ANTARA News) - Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengangkat masalah pengungsi Rohingya dan pembunuhan ekstrajudisial (tanpa lewat peradilan) terhadap tersangka penjahat narkotika di Filipina, pada KTT pemimpin ASEAN dan Barat. Padahal dua isu ini sangat peka bagi ASEAN.

Sampai sensitifnya, Presiden AS Donald Trump sama sekali tidak menyinggung kampanye antinarkotika yang berdarah di Filipina saat bertemu dan berbicara dengan Presiden Rodrigo Duterte.

Sebaliknya, Trudeau, dalam pertemuan bilateral dengan Duterte di Manila, mengaku membahas masalah HAM, penegakan hukum dan khususnya pembunuhan ekstrajudisial yang disebutnya memperihatinkan Kanada.

"Presiden (Duterte) menerima komentar saya," kata Trudeau dalam jumpa pers seperti dikutip Reuters.

Trudeau juga bertemu dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi dan dalam pertemuan ini dia mengangkat masalah pengungsi Rohingya.

"Masalah ini telah menjadi keprihatinan besar Kanada dan banyak sekali negara di seluruh dunia," kata Trudeau.

Sekitar 600.000 warga Rohingya terpaksa mengungsi di berbagai kamp di Bangladesh sejak militer Myanmar melancarkan operasi pembersihan besar-besaran sebagai balasan atas serangan militan Rohingya pada 25 Agustus.

Derita yang dialami Rohingya telah membuat dunia marah, sampai-sampai muncul seruan agar Hadiah Nobel Perdamaian kepada Suu Kyi pada 1991, dicabut.

Tetapi, kecuali Malaysia yang paling keras bersuara soal Rohingga, ASEAN relatif membisu atas isu Rohingya karena ingin mempertahankan prinsip tidak mengintervensi masalah dalam negeri masing-masing anggota ASEAN.