Jakarta (ANTARA News) - Film "Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak" karya sutradara Mouly Surya akan mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada 16 November mendatang, setelah melanglang buana di festival-festival film internasional terhitung dari Mei hingga Oktober 2017.

Film yang mengambil latar belakang di Sumba, Nusa Tenggara Timur ini telah lolos seleksi festival film internasional antara lain Festival Film Cannes pada Mei 2017, New Zealand international Film Festival dan Melbourne Film Festival pada Agustus 2017, Toronto International Film Festival dan Festival International du Film deFemmesde Sale (FIFFS) Maroko pada September 2017, Sitges Fantastic Film Festival, Busan international Film Festival, dan QCinema International Film Festival pada Oktober 2017.

"Cukup jauh perjalanan Marlina sampai pulang lagi ke Indonesia. Para penonton, pembuat film, dan pelaku industri perfilman di luar negeri sangat antusias melihat film ini. Rasanya ingin sekali masyarakat Indonesia bisa merasakan antusiasme yang sama," ujar Mouly Surya dalam pemutaran terbatas film tersebut di Jakarta, Kamis.

Ide cerita film yang antara lain dibintangi oleh Marsha Timothy (Marlina), Dea Panendra (Novi), Egi Fedly (Markus), dan Yoga Pratama (Frans), berasal dari sutradara senior Garin Nugroho.

Premis awal yakni kekerasan kampung yang tidak hanya terjadi di Sumba tetapi juga di banyak daerah lain di Indonesia tetap dipertahankan oleh Mouly dan Rama Adi sebagai penulis skenario, tetapi ditambahkan detil-detil budaya "kendaraan" berupa genre western ala film-film koboi.

Film berdurasi 90 menit itu berkisah tentang Marlina, seorang janda muda yang diserang dan dirampok ternaknya. Kawanan perampok berjumlah tujuh orang itu mengancam nyawa, harta, juga kehormatan Marlina di hadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi, duduk di pojok ruangan.

Untuk membela diri, ia membunuh beberapa orang anggota perampok tersebut dengan racun yang dicampur dalam makanan, dan memenggal kepala Markus (Egi Fedly), si bos perampok.

Keesokan harinya dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan dan penebusan, Marlina membawa kepala Markus yang ia penggal malam sebelumnya.

Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra) yang menunggu kelahiran bayinya dan Franz (Yoga Pratama) yang menginginkan kepala Markus untuk kembali disatukan dengan tubuhnya.

Meski mengaku tidak memasang target tertentu untuk jumlah penonton, Mouly menyatakan bahwa filmnya penting untuk ditonton untuk melihat keberagaman bangsa Indonesia dan membuat masyarakat keluar dari zona nyamannya.

"Ketika saya memutar film ini di luar negeri misalnya, banyak yang tanya Indonesia kan 80 persen Muslim, kenapa saya tidak melihat ada orang berjilbab di film kamu. Saya jawab, ya ini saya di pulau yang mayoritas agamanya Merapu, bahkan bukan Katolik atau Kristen. Ini adalah keberagaman bangsa kita yang menurut saya sangat menarik untuk diangkat," tutur sutradara 37 tahun itu.

Tidak hanya lolos dalam festival film internasional yang cukup bergengsi, "Marlina" juga memperoleh penghargaan film dengan skenario terbaik pada FIFFS Maroko edisi ke-11, aktris terbaik untuk Marsha Timothy dari Sitges International Fantastic Film Festival, dan penghargaan film terbaik Asian NestWave dari The QCinema Film Festival, Filipina.

Film yang berkategori 17+ menurut Lembaga Sensor Film ini merupakan produksi bersama Cinesurya dan KaningaPictures (Indonesia), dengan beberapa mitra ko-produksi internasional yaitu Sasha & Co Production (Prancis), Astro Shaw (Malaysia), HOOQ Originals (Singapura) dan PurinPictures (Thailand).