Sintang, Kalbar (ANTARA News) - Wakil Ketua DPRD Sintang, Tery Ibrahim mengatakan saat ini banyak anak perbatasan yang mengejar sekolah di kota, akibatnya sekolah di perbatasan sepi peminat.

"Ada kesenjangan kualitas pendidikan di kota dan di desa terutama di perbatasan sehingga para siswa lebih memilih ke kota," kata Tery ditemui di Sintang, Kalimantan Barat, Senin.

Menurut Tery, pemerataan kualitas pendidikan antara di kota dan di daerah, sangat penting khususnya untuk daerah perbatasan yang menjadi bernada.

Ia mengatakan dalam kondisi itu tidak bisa menyalahkan siswa atau orangtua, sebab setiap anak maupun orangtua berhak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

"SMA di Desa Whana Bhakti Kecamatan Ketungau Tengah hanya memiliki 10 siswa, karena orang tua dan anaknya lebih memiliki sekolah berkualitas yang berada di kota," tutur Tery.

Apalagi menurut Tery, sekolah yang berada di kecamatan dan di daerah perbatasan sangat terbatas sarana dan prasarana, bahkan sangat kekurangan tenaga pendidik.

"Kasihan yang menempuh pendidikan di daerah, seolah-olah kualitas mereka kalah dari anak-anak di kota. Padahal tidak demikian, banyak anak-anak dari daerah yang berprestasi," kata Tery.

Dirinya pun meminta pemerintah segera mencari solusi agar sekolah di daerah memiliki kualitas baik.

Ia mengkhawatirkan jika persoalan itu dibiarkan berlarut, sekolah-sekolah di daerah bakal semakin terpuruk bahkan tutup karena tidak ada murid yang mendaftar.

"Ke depannya jangan ada sekolah yang diprioritaskan atau difavoritkan. Semua harus diperlakukan sama agar tidak ada stigma kualitas antara di kota dan di daerah," pintanya.

Ditambahkan Tery, pemerataan guru juga menentukan, karena selama ini, tenaga pengajar di daerah masih sangat kekurangan sedangkan di kota tenaga pendidik menumpuk.

"Kemampuan guru harus diperhatikan, di daerah masih banyak tamatan SMA mengajar SMA. Tentu itu mempengaruhi kualitas peserta didiknya," jelas Tery.