Jakarta (ANTARA News) - Sambil duduk-duduk di panggung bekas peringatan setahun gusuran Kampung Akuarium, Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, Rini Irnawati memperhatikan seorang warga yang sedang sibuk di antara puing reruntuhan bekas rumah.


"Coba tolong tanya, dia lagi bangun apa di situ," kata Rini, Ketua RT 12/04, kepada seorang pemuda yang lewat.




Di panggung, tertera 11 April mereka digusur dari lahan. Ada yang pindah ke rumah susun yang disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ada juga mereka yang bertahan di tenda dan mendirikan bangunan semi permanen.




Segera setelah digusur pemerintah, Rini memilih tinggal di tenda dekat lokasi rumahnya dulu daripada pindah ke rusun.




Perabotan rumah ia taruh di rumah kontrakan yang ia sewa di daerah Bojong Gede, sekitar Rp 500 ribu per bulan.




"Saya sudah kenyang ditanya 'kenapa bertahan?' Kami menuntut hak," kata Rini.




Berdasarkan pengakuan Rini, setelah digusur, hanya ada beberapa bangunan semi permanen yang didirikan oleh warga yang bertahan.




Kini, di lahan yang dulunya merupakan pemukiman warga RT 1 dan 12, berdiri lebih dari 100 bangunan semi permanen, menggunakan balok, triplek dan sisa-sisa bangunan yang masih ada.















Mereka yang bertahan rata-rata sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Kampung Akuarium. Rini sendiri sudah tinggal di sana sejak tahun 65 dan mengaku memiliki identitas sebagai warga Jakarta.




“Kalau tidak punya KTP sini, buat apa saya bertahan,” kata dia.




Tarminah, yang juga dulu tinggal di RT 12/04, memilih pindah ke rusun Marunda demi keberlangsungan usaha konveksi yang telah lama dirintisnya.




Sehari-hari, ia juga mengajar les menjahit di Muara Angke, yang sudah dilakoninya saat ia masih menjadi warga Penjaringan.




Letak Marunda-Muara Angke yang jauh membuatnya masih sering mampir ke lokasi bekas rumahnya dulu, pun ia mengaku belum begitu kerasan tinggal di tempat baru.




“Tidur di rusun, kadang di sini, nebeng saja sama teman. Kalau di sini enak, kebersamaan,” kata Tarminah, yang pindah ke Kampung Akuarium sejak 2000 setelah sebelumnya tinggal di Luar Batang.




Sebetulnya, ia masih ingin bertahan di Kampung Akuarium, namun tidak memungkinkan karena ia memiliki delapan mesin jahit sementara aliran listrik diputus tak lama setelah mereka digusur.




Sehari-hari, mereka mengandalkan tiga genset pemberian dari Fadli Zon, kata Rini, untuk dipakai oleh warga RT 1 dan 12 yang masih bertahan.




Untuk keperluan mandi, cuci dan kakus, warga secara bergantian memakai tujuh kamar mandi umum yang didirkan di beberapa titik dekat pemukiman warga







Gubernur Baru




Rini mengakui jumlah bangunan semi permanen yang berada di lahan bekas pemukiman bertambah sejak digusur setahun yang lalu.




Ia belum bisa memperikirakan apakah di pemerintahan yang baru, menurut hitung cepat, kursi DKI 1 dimenangkan oleh pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, bangunan semi permanen akan bertambah dan mereka yang kini mengontrak di tempat lain tertarik untuk kembali.




“Tapi, tergantung suasana juga,” kata dia.




Ia enggan mempercayai begitu saja janji tidak menggusur warga seperti yang digaungkan saat kampanye dulu.




“Walaupun janji, tapi, kan masih mengambang. Kan belum dilantik. Tapi, ya, mudah-mudahan,” kata dia.