Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis sore, relatif stabil dan hanya naik tujuh basis poin menjadi Rp13.303 per dolar AS setelah sebelumnya berada pada Rp13.310 per dolar AS.

"Dolar AS melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengulangi pernyataannya bahwa mata uang Amerika Serikat masih terlalu kuat," kata Analis FXTM Lukman Otunuga di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan bahwa komentar Trump yang menyukai kebijakan suku bunga rendah juga turut menjadi salah satu faktornya. Dolar AS cenderung melemah setiap kali Trump menyampaikan pendapatnya yang pesimistis.

Situasi itu, lanjut dia, membuat masyarakat menjadi tidak yakin dengan kemampuan Trump untuk melaksanakan pemangkasan pajak dan belanja infrastruktur.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova mengatakan bahwa keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI 7-day Reverse Repo Rate) di level 4,75 persen memberi harapan bahwa ekonomi nasional masih kondusif.

"Setelah Pilkada DKI Jakarta, sentimen pasar beralih ke perekonomian nasional yang kondusif," katanya.

Menurut dia, fundamental ekonomi nasional yang kondusif akan memberi ruang penguatan bagi mata uang rupiah untuk jangka panjang.

Dengan stabilnya perekonomian, sektor swasta juga dapat menjalankan usahanya dengan lebih baik.

Sementara itu, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, rupiah melemah ke posisi Rp13.328 dibandingkan hari sebelumnya (Rabu, 19/4) Rp13.299 per dolar AS.