Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank, di Jakarta, Senin petang, bergerak melemah tipis sebesar dua poin menjadi Rp13.282, dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.280 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova, di Jakarta, Senin, mengatakan, pelaku pasar uang cenderung mengambil posisi tunggu dan amati, di tengah sentimen geopolitik global sehingga pergerakan mata uang rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS.

"Di tengah posisi itu pelaku pasar cenderung mengamankan asetnya dari intrumen mata uang berisiko," katanya.

Ia menambahkan, sikap tunggu dan amati pelaku pasar itu juga berkenaan dengan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Pelaku pasar uang mengantisipasi situasi politik di dalam negeri.

Di sisi lain, lanjut dia, hasil survei perbankan yang mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada triwulan pertama 2017 yang melambat juga turut membuat sebagian pelaku pasar uang khawatir terhadap perkembangan ekonomi domestik.

"Namun, secara umum ekonomi kita masih positif sehingga respon pasar terhadap data kredit itu diproyeksikan bersifat jangka pendek," katanya.

Bank Indonesia mencatat, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru sebesar 52,9 persen pada triwulan pertama 2017 dari 85,6 persen pada triwulan sebelumnya. Kredit baru pada triwulan pertama 2017 masih sesuai pola historis awal tahun, dan akan kembali meningkat pada triwulan kedua 2017.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia, Senin, mencatat nilai tukar rupiah bergerak menguat ke posisi Rp13.255 dibandingkan hari sebelumnya (Kamis, 13/4) Rp13.264 per dolar Amerika Serikat.