Bogor (ANTARA News) - Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat Nahdlatul Ulama 2017 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dimeriahkan oleh kehadiran salah satu pentolan band legendaris asal Bandung, Acil Bimbo, Sabtu.

Kehadiran Acil tidak hanya pengisi acara, tetapi terlibat dalam mendukung program Muslimat NU merajut kembali sosial spiritual.

"Pada pembukaan ini Acil Bimbo bersama Muslimat NU berproses merajut kembali sosial spiritual. Karena masalah ini permasalahan yang tidak ketemu solusinya sehingga mencari solusi yang destruktif secara sosial maupun regulasi," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam sambutannya.

Acil tampil dalam dua sesi. Sesi pertama ia membawakan tiga lagu yakni Adinda ciptaan Titiek Puspa direkam tahun 1980, Sajadah Panjang ciptaan Jaka Bimbo dan Taufik Ismail serta lagu Sendiri yang juga diciptakan oleh Titiek Puspa.

Di sela-sela penampilannya, Acil menyampaikan kekhawatirannya akan kondisi bangsa saat ini. Korupsi yang merajalela yang menghabiskan uang negara triliunan rupiah.

"Peran kaum Muslimat NU harus besar dan harus ada di jajaran terbesar. Karena jarang dibicarakan di masyarakat umum tentang potensi kaum perempuan," katanya.

Ia mencontohkan organisasi perempuan TP PKK yaang jarang terlihat ribut-ribu tetapi kritis, berbeda dengan organisasi partai yang membawa bendera agama yang mempertontonkan pertengkaran di dalam organisasinya.

Peran perempuan lanjutnya, luar biasa, terpenting membangun silaturahmi, paling dibutuhkan bangsa. Kehangatan silaturahmi internal dengan membangun kemitraan, dengan organissasi manapun akan menjadi kekuatan baru.

"Indonesia sudah merdeka hampir 72 tahun, masak mau begini terus. Bangsa Jepang, Korea dan sekarang disusul Tiongkok sudah membuktikan mereka sebagai negara yang tangguh. Harusnya kita bisa lebih hebat dari mereka dengan kekuatan negara yang kita miliki," kata Acil.

Pada sesi kedua, Acil kembali menyanyikan tiga lagu yakni Flamboyan yang direkam tahun 1970, aransemennya dibuat di Jepang, diciptakan oleh Iwan Abdurahman tahun 1967.

Lagu kedua liriknya dibuat oleh Taufik Ismail dan diaransemen oleh Jaka Bimbo tahun 1975 berkisah tentang kekhawatir grup musik legendaris tersebut dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini.

"Lagu tentang kekhawatiran kami tentang kondisi hari ini, melihat hari ini masalah yang ada. Saat ini bangsa kita sedang jalani krisis multidimensional yang biasanya berasal dari diri sendiri," katanya.

Ia menyebutkan, Indonesia harus mensyukuri kekayaan alam yang luar biasa, jarang dimiliki negara lain. Terbentang mulai dari Aceh sampai Papua.

"Potensi alam dan sumberdaya kita sangat besar, tetapi kita mengelolanya sambil bercanda. Kalau kita sendikit bersungguh-sungguh, Indonesia akan berkibar di kancah dunia," kata Acil.