Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada Pertemuan Menlu Kelompok G20 mengatakan bahwa negara-negara anggota G20 harus berkontribusi dalam upaya menciptakan dunia yang aman, stabil dan sejahtera.

"Negara-negara G20 memiliki tanggung jawab dan kepentingan bersama untuk menciptakan dunia yang lebih damai, stabil, dan sejahtera," ujar Menlu Retno Marsudi, seperti disampaikan dalam keterangan pers Kementerian Luar Negeri yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Pernyataan tersebut disampaikan Menlu RI pada Pertemuan Menlu G20 dalam sesi mengenai "Maintaining Peace in A Complex World" (Memelihara Perdamaian di Dunia yang Kompleks) di Bonn, Jerman pada Jumat (17/2).

Dalam pembahasan Menlu RI mengingatkan situasi dunia yang semakin rumit serta tidak menentu, termasuk masih maraknya pertikaian, konflik, tragedi kemanusiaan, terorisme, sentimen populisme dan "Islamophobia" di berbagai negara.

Menlu Retno juga menegaskan bahwa perbedaan kepentingan nasional berbagai negara seharusnya tidak mengarah pada perpecahan, apalagi konflik. Untuk itu, dia berpendapat bahwa diperlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk dalam upaya bersama untuk mencegah atau menyelesaikan konflik secara damai.

"Negara anggota G20 memiliki tanggung jawab untuk terus menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan global yang kompleks," ujar dia.

Selain itu, Menlu RI juga menekankan peran penting Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam membantu menjaga perdamaian dan stabilitas global.

Terkait hal itu, Retno menyoroti pentingnya peran dan efektivitas PBB dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.

Menlu RI juga mengajak anggota G20 untuk meningkatkan dukungan terhadap peran PBB itu, antara lain dengan memastikan adanya pendanaan yang pasti, mencukupi dan berkelanjutan bagi aktifitas pemeliharaan perdamaian PBB.

Selanjutnya, Menlu Retno secara khusus membahas masalah ancaman terorisme, yang saat ini sangat nyata, semakin serius dan semakin besar.

Dia menekankan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia yang bebas dari ancaman terorisme. Dalam 16 tahun terakhir, sebanyak 93 negara telah mengalami serangan terorisme, dan serangan dari kelompok yang terafiliasi dengan ISIS.

Menlu RI juga menegaskan bahwa terorisme tidak terkait dengan agama, bangsa, budaya atau etnis manapun.

"Upaya untuk atasi ancaman dari terorisme membutuhkan kerja sama internasional yang kuat," tutur Menlu Retno.

Menlu RI juga menyoroti adanya kecendrungan selama ini untuk mengatasi ancaman terorisme dengan fokus menggunakan "hard power" (penegakan hukum).

Menanggapi hal itu, dia menekankan pentingnya menggunakan "soft power" dalam memerangi ancaman dari terorisme.

Menurut Retno, jangkauan kepada pemimpin komunitas dan organisasi agama serta program-program de-radikalisasi, kontra-radikalisasi dan dialog antaragama merupakan berbagai kegiatan "soft power" yang penting dilakukan untuk memerangi ancaman terorisme.

"Memerangi terorisme harus menggunakan strategi yang pintar dan komprehensif, mengkombinasi strategi hard power dan soft power, mengatasi akar masalah dan memenangkan hati dan pikiran baik orang-orang yang sudah terlanjur menjadi radikal maupun yang belum," ucap Menlu RI.