Jakarta (ANTARA News) - Dalam debat terakhir calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang berlangsung Jumat (10/2) lalu, moderator Alfito Deannova Gintings sempat bertanya perihal keunggulan calon lain dan masing-masing menjawab secara bervariasi baik itu pernyataan maupun bahasa tubuhnya. Berikut ulasan Pakar bahasa tubuh Monica Kumalasari:


Agus Harimurti Yudhyono (AHY)
Secara spesifik AHY menyebutkan keunggulan dan kekurangan para pesaingnya.




"Saya harus menjawab pertanyaan spesifik tadi supaya clear semuanya. Kalau ditanya apa kelebihan nomor dua, Pak Basuki lugas menyampaikan apa yang dipikirkan, tapi tentunya harus dibedakan antara tegas dengan kasar. Inilah yang jadi pembeda bagi saya. Tegas tidak harus kasar dan tegas tak harus beringas. Tapi tegas itu tetap beretika dam berdasarkan Undang-Undang yang berlaku."




"Pak Anies adalah orang yang pandai berkata-kata tentunya, dengan teori dan lain sebagainya. Tetapi sampai hari ini saya masih mempertanyakan integritas dan konsistensi beliau sebagai sebagai pemimpin. Kami berdua hadir sebagai alternatif pemimpin baru di Jakarta. Mudah-mudahan bisa memberikan jawaban bagi rakyat."




Kedipan mata (blinking rate) AHY meningkat menandakan yang bersangkutan sedang melakukan cognitive loading atau berpikir keras untuk bisa menjawab.




Ini juga terlihat dari kalimat pertama yang dia katakan saat menjawab bahwa dirinya harus menjawab supaya clear semua. Menurut Monica, ini menampakkan keterpaksaan.




AHY memulai pernyataannya dengan komentar positif dilanjutkan kritik secara pribadi yang menjadi offensive bagi paslon lain.




Sayangnya, AHY lupa menutupnya kembali dengan rangkuman kalimat yang merupakan motivasi untuk perubahan. Di sini terlihat pengendalian emosi yang masih jauh dari kematangan, kata Monica.




Djarot Saiful Hidayat

Majunya Djarot untuk menjawab menandakan adanya upaya meminimalisir konflik yang bisa terjadi bila Basuki Tjahaja Purnama yang menjawabnya.



"Untuk paslon satu, mereka berani menyampaikan sesuatu meskipun secara aksi di lapangan itu sulit dilaksanakan tapi yakin banget, yakin banget. Saya mengapresiasi, kami menunggu-nunggu siapa yang bisa menyempurnakan program-program yang kami kerjakan."




"Paslon tiga, lebih hebat lagi, pandai membuat suatu opini di awang-awang tapi buktinya susah. Saya ambil contoh, Maaf Pak Anies. Pak Anies pernah menjadi menteri tapi diberhentikan karena tidak cepat mengeksekusi program yang digariskan kabinet."




"Tapi yang kami petik dari Pak Anies adalah kesabarannya dan kesantunannya. Pak Sandi juga seperti itu, ada kesabaran kesantunan yang ditularkan kepada kami, kemudian mendidik kami untuk berubah karena hidup itu belajar."




Djarot menggunakan teknik “Feedback Sandwich”, yaitu suatu teknik yang digunakan untuk mengkritisi seseorang tanpa menimbulkan ancaman bagi si penerima kritik, namun justu membuat orang yang bersangkutan tergerak melakukan improvement.




Maksud dari metode ini, seperti layaknya sandwich –yang dimulai dengan roti – kemudian isi dan ditutup lagi dengan roti. Roti lapisan pertama diisi dengan komentar positif – sedangkan isi adalah penyampaian saran – dan roti lapisan bawah diisi dengan penyampaian motivasi.




Anies Baswedan




"Pertanyaan ini baik, tapi saya ingin menggarisbawahi bahwa pilkada ini bukan soal Anies, Sandi, Agus, Sylvi, bukan tentang Basuki, juga Djarot. Ini tentang warga Jakarta. Kami ingin menggarisbawahi, kami hadir di sini berbeda-beda tapi tujuan kita adalah Jakarta yang warganya merasakan kemajuan, kebahagiaan di situ."




"Kalau dibandingkan mungkin bisa, saya dengan tiga calon kekayaannya paling tinggi Pak Basuki, Agus, kemudian saya. Tapi untungnya wakil saya lumayan kaya, bisa begitu. Atau disebutkan juga, Agus itu gagah, ganteng dan bisa berenang jauh."




"Alhamdulillah wakil saya melengkapi, bisa berenang juga, ganteng juga, not bad. Artinya kalau sekadar membandingkan kita bisa lakukan itu. Saya melihat pasangan kami mencoba mengisi. Bang Sandi seperti Usman bin Affan yang sudah kaya, sudah cukup, tapi mengabdikan hidupnya ke politik. Beliau sering menyebut saya seperti Abu Bakar As-Siddiq."




Jawaban Anies seakan mengalihkan konten pembicaraan atau menggunakan teknik yang disebut deflection, yakni ditunjukkan dengan menghindari menjawab langsung.




Monica mengatakan, hal ini merupakan ciri khas Anies yang nampak juga pada debat yang lalu yaitu mengkritisi pertanyaan itu sendiri.




Cara ini menimbulkan kesan Anis lebih piawai daripada panelis dalam membuat pertanyaan. Emosi yang terkait dengan statement ini adalah adanya kemarahan yang (ini dapat dilihat dari nada suara yang meninggi).