Jakarta (ANTARA News) - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian meminta organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Garda Bangsa, ikut membantu upaya-upaya deradikalisasi guna menumpas terorisme di Indonesia.

"Saya berharap organisasi Garda Bangsa dapat turut menjadi garda terdepan dalam menghadapi kelompok radikal dengan upaya deradikalisasi," ujar Tito saat simposium deradikalisasi yang diadakan Garda Bangsa di Jakarta, Kamis.

Tito menyampaikan lima langkah untuk deradikalisasi.

Pertama, netralisasi atau mengubah paham radikal kelompok-kelompok atau individu perekrut pelaku teror. "Kita bisa menetralisirnya dengan cara persuasif, mengubahnya menjadi moderat dengan program counter ideology sehingga orang yang pahamnya radikal menjadi moderat," kata Tito.

Kedua, cara koersif yang menekankan pada langkah-langkah keamanan seperti melibatkan militer, intelijen dan kepolisian yang dipayuki undang-undang.

"Tinggal pilih mau dengan militer, intelijen yang menggunakan undang-undang keras dengan pasal karet atau law enforcement melalui kepolisian. Kalau menurut saya di negara kita yang demokrasinya mengarah ke liberal, lebih cocok dengan law enforcement tetapi tetap ada unsur militer dan intelijen di dalamnya," kata Tito.

Ketiga, netralisasi segmen masyarakat yang menjadi target indoktrinasi radikalisme, melalui kajian wilayah-wilayah mana saja yang masyarakatnya rentan menjadi target paham radikal.

Keempat, program counter media di dunia maya, untuk melawan media-media digital yang dimanfaatkan kelompok radikal untuk menyebarkan pahamnya.

Tito mengatakan dalam kelompok radikal telah dikenal istilah jihad digital yang dilakukan dengan cara mencuri uang dari orang yang dinilai kafir melalui sistem fraud, hingga melatih aksi teror melalui teknologi dunia maya.

"Sehingga untuk membuat bom mereka bisa melakukan melalui cyber training, cukup didikte bahan dan caranya. Perlu ada program khusus untuk menetralisir channel-channel media seperti ini," kata Tito.

Kelima, memanfaatkan penelitian para ahli, ilmu sosial dan ulama terkait alasan suatu wilayah kerap dijadikan tempat penyebaran paham radikal atau menjadi sasaran aksi teror.

"Misalnya kenapa di Poso banyak pelaku teror. Kenapa teror terjadi di Solo, Banten dan sebagainya. Apakah karena faktor spiritual, faktor ideologi atau faktor emosional dan dendam," kata Tito.

Tito berharap Garda Bangsa dan organisasi lain dapat membantu deradikalisasi dengan menempuh lima langkah itu.

Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa, Cucun A Syamsurijal mengatakan sejauh ini organisasinya telah membentuk kelompok Garda Santri di seluruh perwakilan ranting Garda Bangsa, untuk memberikan pemahaman mengenai Pancasila dan kegamaan.

"Garda Bangsa berkomitmen untuk membendung hal-hal negatif terutama terkait pemahaman radikalisasi," ujar Cucun.