Jakarta (ANTARA News) - Penyanyi dan penulis lagu Robert Allen Zimmerman alias Bob Dylan tidak menghadiri perjamuan Penghargaan Nobel 2016 yang diraihnya di bidang sastra, namun mengirimkan perwakilan untuk membacakan pidatonya, merasa takjub bersanding dengan Hemingway di Yayasan Nobel.





"Sejak kecil, saya sudah akrab membaca dan menyerap karya-karya seperti Kipling, Shaw, Thomas Mann, Pearl Buck, Albert Camus, Hemingway. Kini saya bergabung dengan nama-nama itu, yang tidak bisa digambarkan dengan kata-katanya," katanya melalui perwakilannya di Stockholm, Swedia, Sabtu, layaknya dilansir laman Time, Minggu.




Penulis lagu "Blowin' in the Wind" itu mencatat, karya tokoh-tokoh luar biasa tersebut telah diajarkan di berbagai kelas belajar, ditempatkan di perpustakaan seluruh dunia dan diperbincangkan secara terhormat dan memberi kesan mendalam.




"Saya kira siapapun yang menulis buku, atau puisi, atau bermain drama di dunia ini memiliki mimpi untuk mendapatkannya. Itu mungkin terkubur begitu dalam sehingga mereka tidak sadar mimpi itu ada," catatnya, mengenai Penghargaan Nobel, yang mengabadikan nama pendiri yayasan Alfred Nobel.





Dylan juga bercerita tentang perasaannya ketika dikabari mendapatkan Penghargaan Nobel, dan mengakui butuh waktu untuk mencerna informasi tersebut.




"Saya sedang berada di jalan saat menerima kabar mengejutkan ini, dan saya perlu beberapa menit untuk mencernanya," ujar musisi kelahiran 24 Mei 1941 di Duluth, Minnesota, Amerika Serikat (AS), itu.




Dylan mengaku tidak menyangka mendapat penghargaan sebesar Nobel. Ketika mulai menulis lagu di usia remaja, bahkan saat kemampuannya sudah mulai diakui, ia hanya ingin karya-karyanya dimainkan di kafe atau bar, atau Carnegie Hall dan London Palladium.




"Membuat album dan mendengarkan lagu Anda di radio, berarti Anda berhasil meraih pemirsa yang luas. Dan, dianugerahi Penghargaan Nobel di bidang Sastra adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan," demikian Bob Dylan.