New York/Los Angeles (ANTARA News) - Dengan meneriakkan yel-yel "Bukan presiden saya" dan "love trumps hate" (cinta menggantikan kebencian, cinta diasosiasikan dengan Hillary Clinton sedangkan kebencian diasosiasikan dengan Donald Trump), ribuan demonstran turun lagi ke jalan di kota-kota besar di seluruh penjuru Amerika Serikat, Sabtu waktu setempat atau sudah memasuki hari keempat, untuk menolak Presiden terpilih Donald Trump yang mereka anggap mengancam hak sipil dan hak asasi manusia.

Unjuk rasa terbesar meletus di New York, Los Angeles dan Chicago, di mana panitia demonstrasi ingin membangun momentum setelah beberapa malam berunjuk rasa yang dipicu oleh kemenangan mengejutkan Trump pada Pemilu Selasa 8 November lalu.

Di New York, ribuan demonstran berpawai damai di Fifth Avenue dengan mengenakan hiasan-hiasan Natal sebelum memadati jalan di sekitar Trump Tower, rumah Donald Trump.

"Kami ngeri negeri ini telah memilih seorang rasis pembeci perempuan yang sama sekali tidak layak dengan membawa platform yang sungguh penuh kebencian," kata Mary Florin-McBride (62), pensiunan bankir dari New York yang membawa spanduk bertuliskan, "Tidak boleh ada Fasisme di Amerika."

Unjuk rasa digelar di Chicago dan Los Angeles di mana ribuan demonstran berkumpul di Taman MacArthur Park sembari mengangkat spanduk bertuliskan "Dump Trump" (Buang Trump) dan 'Minoritas itu penting", sebelum bergerak ke pusat kota.