London (ANTARA News) - Manajer baru Inggris Sam Allardyce mengatakan hari-hari tentang timnas Inggris yang potensial telah berlalu dan sekarang dia ingin melihat "realitas" tim arahannya dalam menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2018.

"Hal yang paling penting sekarang bagi kami adalah kualifikasi (untuk Piala Dunia), lalu kami dapat melangkah lebih jauh ke dalam seiring bagaimana kami dapat menghasilkan hasil lebih baik dalam turnamen. Skuad ini bukan lagi potensial namun sudah harus menjadi skuad yang realitas," kata pria 61 tahun tersebut, Senin, lapor Reuters.

Menurut Allardyce, para pemain muda yang menjadi bagian timnas Inggris kala itu, sudah memiliki banyak pengalaman, walaupun beberapa di antaranya sangat menyakitkan.

"Tapi hal itu dapat menjadi bantuan besar untuk memastikan mereka tidak lagi merasa demikian (menyakitkan)," ujar dia.

Allardyce sendiri mengaku tidak terlalu menyukai penggunaan kata potensial bagi Timnas asuhannya tersebut, dikarenakan penggunaannya pada Timnas Utama Inggris yang sudah semestinya memiliki kemampuan yang sangat baik dalam setiap pertandingan.

"Skuad ini akan memiliki performa lebih baik dan memberikan hasil yang lebih baik," ujar dia.

Allardyce disebut-sebut sebagai pengganti Roy Hodgsons yang cocok untuk kursi kepelatihan Inggris dan dianggap mampu merubah peruntungan negeri Ratu Elizabeth ini setelah kegagalan di Euro 2016 lalu yang sebagian besar diisi pemain-pemain muda.

Skuad muda Inggris yang diturunkan dalam perhelatan Euro 2016 sendiri, datang ke Prancis dengan harapan tinggi setelah melalui serangkaian laga kualifikasi dengan tanpa kesulitan, namun harus mengakhiri laga lebih awal setelah dihempaskan oleh Islandia dalam babak 16 besar.

Allardyce memiliki reputasi memutarbalikan peruntungan dari klub-klub asuhannya, akan tetapi dia tidak pernah mendapatkan gelar apapun di tingkat domestik.

Terkait dengan anggapan bahwa dirinya mengandalkan taktik "route one football" dalam permainannya yang didasarkan pada apa yang dia lakukan ketika di Sunderland pada musim terakhir ketika dirinya berhasil mengamankan Sunderland dari degradasi, Allerdyce menolak hal tersebut.

"Gaya permainan yang selalu dikaitkan denganku, tidak bisa kutampikkan. Namun saya ingin mencontohkan, musim lalu saya bermain bersama Jermain Defoe yang kutempatkan sendirian di posisinya, jadi gaya bermain yang dihubungkan denganku tidak bisa benar benar dihubungkan denganku atas itu," kata dia.


Manajemen Manusia

Allardyce menyatakan manajemen manusia adalah atribut utama yang ia miliki. Dia mencontohkan ketika pihak lawannya menyebut Jermain Defoe tidak dapat bermain di depan sendirian.

"Namun apa yang dia (Defoe) lakukan, dia bermain sendirian di depan dan mencetak 15 gol dalam Liga Primer Inggris. Apapun yang orang-orang katakan padaku, hal tersebut tidak dapat menhgentikanku untuk mencoba hal lainnya," ujar mantan pemain bertahan tersebut.

Atas modal manajemennya pada beberapa pemain kelas dunia tersebut, Allerdyce menilai dirinya memiliki pengalaman untuk menerima tantangan menjadi manajer Inggris terlebih dirinya telah menjadi manajer untuk lima klub Premier Liga Inggris.

"Saya pikir saya dapat membuat lingkungan yang baik, terlebih lima klub Premier Liga Inggris telah memberi pengalaman yang sangat bernilai. Namun manajemen manusia adalah aset terbesar saya, yaitu untuk membantu pemain nyaman dan melakukan lebih baik, dan hal itu berhasil di manapun," tuturnya.

Kendati Allardyce yang dipuji akan keahliannya membalikan peruntungan dari klub-klubnya secara cepat, akan tetapi dia menilai Tim Nasional Inggris berada pada situasi yang berbeda karena tidak berada di tingkat terendah.

"Saya telah membawa West Ham naik, menyelamatkan Blackburn Rovers dan sekarang Sunderland, namun saya menyadari diri saya bisa lebih dari itu. Saya dapat memutar balikkan keadaan secara cepat, dapat merangkul tim dan staf serta mencoba menciptakan perjalanan yang sukses. Namun apa yang kami mau adalah kesuksesan Inggris dan itu akan menjadi tantangan yang lebih besar dalam karir saya," kata dia.
(Uu.R030/D011)