Jerusalem (ANTARA News) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu (13/7) mengatakan Israel menjalani "revolusi" hubungan dengan negara Arab.

Ketika berbicara dalam upacara kelulusan personel militer di National Security College pada Rabu malam (13/7), Netanyahu mengatakan Israel mengalami "revolusi dalam hubungan dengan negara Arab penting". Ia menambahkan normalisasi pada gilirannya akan mendorong kesepakatan perdamaian dengan Palestina.

"Negara Arab menyadari sekarang bahwa Israel bukan musuh tapi sekutu melawan ancaman kaum fanatik agama," kata perdana menteri itu pada Rabu, menurut pernyataan dari kantornya seperti dikutip Xinhua.

Ia juga mengatakan tidak seperti pandangan umum setakat ini, yang menyatakan kesepakatan perdamaian dengan Palestina akan memajukan normalisasi dengan negara Arab, susunan itu bisa diubah.

"Kami sejak dulu selalu mengatakan saat kami mencapai perdamaian dengan Palestina, kita akan bisa mencapai hubungan damai dengan seluruh dunia Arab ... tapi saya telah tumbuh untuk berfikir proses ini juga dapat berjalan dengan arah yang berlawanan," kata Netanyahu.

Perdana Menteri Israel tersebut telah menyebut-nyebut hubungan erat yang dipelihara Israel dengan dua negara tetangga Arabnya --Mesir dan Jordania. Israel menandatangani kesepakatan perdamaian pada 1979 dengan Mesir dan 1994 dengan Jordania.

Masyarakat internasional belum lama ini telah meningkatkan tekanan atas Israel agar memulai kembali pembicaraan perdamaian dengan Palestina, berdasarkan penyelesaian dua-negara, demikian laporan Xinhua. Babak terakhir pembicaraan perdamaian antara kedua pihak macet pada April 2014, tanpa hasil.

Tekanan itu dilancarkan di tengah gelombang kerusuhan 10-bulan yang telah merenggut 34 nyata orang Yahudi dan 216 nyawa orang Palestina.

Prancis pada Januari telah mengajukan rencananya untuk mengadakan konferensi internasional pada penghujung tahun ini guna memulai kembali pembicaraan perdamaian antara kedua pihak, dengan bantuan masyarakat internasional.

Meskipun Palestina memuji gagasan tersebut, Israel menolaknya. Para pemimpin Israel menyatakan "berbagai forum internasional akan memungkinkan pejabat Palestina menahan diri dari pembicaraan langsung dengan Israel".

Netanyahu dan pejabat lain Israel malah kembali menyatakan pentingnya untuk memulai kembali pembicaraan perdamaian dengan bantuan aktif negara Arab di wilayah tersebut, dan Mesir memainkan peran menonjol.

Pada Mei, Presiden Mesir Abdel Fattah As-Sisis mengatakan ada "kesempatan nyata" untuk melanjutkan pembicaraan perdamaian dan mencapai kesepakatan perdamaian antaa Israel dan Palestina, dengan penengahan negara Arab.

Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman berulangkali memuji pernyataan tersebut.

(Uu.C003)