London (ANTARA News) - PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), anak usaha PT Pertamina (Persero) yang mengelola sejumlah lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Aljazair menargetkan dapat meningkatkan share bagian Indonesia sebesar 100 ribu barel oil equivalent per day (BOEPD) atau barel setara minyak per hari pada 2018.

Besaran ini melonjak 163 persen dari total kapasitas produksi tahun lalu yang hanya sebesar 38.800 BOEPD, demikian Sekretaria Tiga Pensosbud KBRI Aljazair Darmia Dimu kepada Antara London, Minggu.

Perseroan berusaha memacu kapasitas produksi melalui pembukaan sejumlah ladang eksplorasi baru di Aljazair.

Presiden Direktur PT Pertamina Internasional EP Slamet Riadhy dalam kunjungannya ke Alger, Aljazair mengaku optimis target peningkatan kapasitas produksi migas dapat terealisasi.

Dalam kunjungan itu, ia bertemu dengan petinggi Badan Regulasi Minyak dan Gas Bumi (migas) Aljazair, Alnaft serta perusahaan migas Aljazair, Sonatrach untuk menegosiasikan kemungkinan pembukaan blok migas baru di negara tersebut.

Pemerintah Aljazair masih mempertimbangkan proposal yang diajukan oleh pihak Pertamina. Namun, diakui peluang peningkatan kapasitas produksi BUMN migas di Aljazair cukup terbuka, mengingat akseptabilitas Pemerintah Aljazair terhadap Pertamina sebelumnya telah menghasilkan kemitraan dan hubungan baik antara kedua pihak.

"Upaya-upaya yang kami lakukan ini dalam rangka menjaga ketahanan energi Indonesia," ujar Slamet Riadhy, seusai bertemu dengan Dubes RI untuk Aljazair, Safira Machrusah, di KBRI Alger.

Dari 38 ribu BPOED minyak dan gas bumi yang diproduksi Pertamina, 20 ribu BPOED di antaranya berupa minyak bumi, sementara 18 ribu kubik (MMSCFD/ Million Standard Cubic Feet per Day) berupa gas. Besaran tersebut dihasilkan dari sejumlah ladang eksplorasi Pertamina di Aljazair, seperti MLN (Menzel Lejmat North), EMK dan Orhud.

Sementara itu Dubes RI untuk Aljazair, Safira Machrusah mendukung penuh upaya Pertamina dalam meningkatkan kapasitas produksi dan membuka sumur eksplorasi baru di Aljazair. Dalam waktu dekat, pihaknya akan menindaklanjuti upaya Pertamina dengan menggelar pertemuan dengan Menteri Energi Aljazair, Salah Khebri.

Menurut Safira, ini merupakan langkah strategis bagi peningkatan kerjasama kedua negara khususnya dalam bidang energi. "Kami mendukung penuh upaya Pertamina untuk meningkatkan kapasitas produksinya di Aljazair. "Kami sendiri akan menindaklanjuti langkah pertamina ini dengan berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait di Aljazair. Mudah-mudahan bisa berhasil dan lancar semuanya", ujar Safira.

Pertamina masuk ke Aljazair pertama kali akhir 2013 dengan mengakuisisi 65 persen kepemilikan dari ConocoPhillips Algeria (Copal) dan menjadi operator pada blok 405A. Sejak tahun 2014 kerjasama antara Pertamina dengan Aljazair menguntungkan kedua belah pihak.

Total produksi migas yang dihasilkan Pertamina di Aljazair sebanyak 28 juta barel. Sebesar 7 juta barel dimiliki Pertamina, sementara sisanya untuk Aljazair. Pertamina gencar melakukan eksplorasi dan eksploitasi migas di luar negeri untuk menutupi kebutuhan minyak nasional yang terus meningkat. Diperkirakan, kebutuhan minyak Indonesia pada 2025 mendatang mencapai lebih dari 2 juta barel.

Sementara produksi minyak yang dapat dihasilkan dari sumur migas dalam negeri hanya berkisar 400-500 ribu barel. Untuk menutupi kekurangan sekitar 1,5 juta barel, Pemerintah tidak memiliki pilihan selain mendatangkan minyak dari luar negeri.