Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menyatakan, hingga saat ini belum ada laporan ada WNI menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Taman Kota Lahore, Pakistan, Minggu malam (27/3), yang bertepatan dengan Hari Paskah, hari besar Kristiani di seluruh dunia.

Berbicara kepada pers di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin ini, dia telah melaporkan hal itu kepada Presiden Joko Widodo.


Pejambon (nama kawasan di mana Kantor Kementerian Luar Negeri berada di Jakarta) langsung menghubungi Kedutaan Indonesia di New Delhi, India, atas serangan bom bunuh diri itu. Bom bunuh diri Lahore terjadi pukul 20 waktu setempat alias 22.00 WIB.




Bom bunuh diri itu diketahui menewaskan seketika 65 orang dan melukai secara serius 300 yang lain. Sementara CNN menyatakan korban tewas itu 67 orang.

Baca Juga : Pakistan buru pelaku di balik serangan bom Lahore


"Hari ini tim dari Islamabad ke Lahore untuk memastikan tidak ada korban WNI dan juga mempererat koordinasi dengan otoritas setempat karena banyak mahasiswa kita yang berada di Lahore," kata Marsudi.

Dia juga menghimbau kepada keluarga WNI di Lahore yang merasa kehilangan anggota keluarganya untuk menghubungi ke nomor +922832012, +923458571989.

"Ini hotline, kapanpun bisa dihubungi dengan dua nomor tersebut," kata dia. Dibandingkan ke Islamabad, Lahore di provinsi makmur Pakistan, Provinsi Punjab, cukup dekat ke New Delhi, dan kota besar di pesisir Pakistan terdekat dengan Lahore adalah Karachi.

Pada Minggu malam (27/3), terjadi ledakan di wilayah Taman Gulshan-e-Iqbal yang merupakan satu di antara pusat kota tempat banyak orang berkumpul.

Otoritas di Pakistan menyebutkan kepada media setempat, ledakan itu kemungkinan disebabkan karena bom bunuh diri yang menewaskan setidaknya 65 orang.



Baca Juga : Presiden Jokowi kutuk keras serangan Bom Lahore

Kebanyakan korban serangan bom di sebuah taman di kota bagian timur Lahore pada Minggu petang (27/3) adalah perempuan dan anak-anak yang sedang menikmati libur akhir pekan Paskah.



Ledakan bom ini seolah menyambung pemboman dan teror yang terjadi di Paris (Prancis) dan Brussel (Belgia). Pada saat sebelumnya, kekuatan gabungan Barat dan Rusia serta orotitas Suriah dilaporkan semakin melemahkan posisi ISIS di Suriah dan Irak. Libya kemudian menjadi "alternatif" posisi baru ISIS.