Bandung (ANTARA News) - PT Pertamina menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) pada tahun 2016 ini sebesar 5,3 miliar dolar AS yang akan dialokasikan untuk peningkatan usahanya di sektor hulu dan hilir.

"Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) kita pada tahun 2016 ini, kita siapkan capex sebanyak 5,3 miliar dolar AS untuk peningkatan di sektor hulu dan hilir," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina Wianda Pusponegoro saat dihubungi dari Bandung, Sabtu.

Wianda mengatakan dana tersebut bersumber dari internal perusahaan yang terbagi untuk industri hulu sebanyak 4,7 miliar dolar AS dan sisanya akan diarahkan untuk peningkatan industri hilir.

Untuk industri di tingkat hulu, Pertamina akan mengalirkan dana yang dianggarkan sebesar 4,7 miliar dolar AS, untuk pengembangan lapangan Migas yang ada dan dimiliki saat ini oleh perusahaan.

"Termasuk akuisisi lapangan Migas di luar negeri," ujar Wianda.

Sedangkan untuk industri hilir, lanjut Wianda, Pertamina akan mengalokasikan capex untuk peningkatan kapasitas kilangnya termasuk pembangunan instalasi pipa-pipa baru untuk gas, pipa transmisi, maupun BBM.

"Kita saat ini memiliki proyek yang banyak, namun kita lihat nanti kapasitas uangnya seperti apa. Tapi capex segitu jumlahnya lebih besar dari 2015," tuturnya.

Wianda mengakui dengan anggaran untuk peningkatan industri hilir yang dirasa masih kurang jika Pertamina ingin menggunakan belanja modal itu untuk peningkatan kapasitas kilang. Karenanya dia menyatakan pihaknya memiliki opsi untuk mendapatkan sumber pendanaan baru.

"Memang kurang, karenanya kita harus meningkatkan kemampuan financial engineering untuk mencari sumber pendanaan lain agar proyeknya berjalan atau opsi lainnya kita kerjakan dengan skala lebih kecil," ujarnya.

Dia mencontohkan untuk satu kilang memiliki target untuk menaikan kapasitasnya hingga 100 ribu barrel karena dananya masih minim, mungkin kapasitasnya sama namun spesifikasi di bawah standar yang jadi target pengembangan.

"Ini semacam proyek penghubung, tapi kita masih bisa melakukan projek ini," ujarnya.

Kendati demikian, Wianda mengatakan jumlah capex sebanyak 5,3 miliar dolar AS tersebut masih bersifat fleksibel karena masih akan ada RKAP Perubahan yang dibahas dengan pemerintah dan harus disesuaikan dengan kondisi harga minyak dunia.

"Kita akan lihat lagi, karena kita harus pertimbangkan fakta di luar dengan harga minyak turun terus kita tunggu apa tetap apa kita harus review dalam arti apa kita harus adjust atau menyeesuaikan, yang pasti gak adjust naik dan angka capex akan benar-benar fix setelah RKAP Perubahan kita disetujui jadi masih dichalange," ujar dia.