Bengkulu (ANTARA News) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu memindahkan dua ekor harimau Sumatra (Phantera tigris sumatrae) korban konflik ke Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, di Kabupaten Bengkulu Utara.

Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Bengkulu, Darwis Saragih mengatakan pemindahan tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan perawatan dua satwa langka dilindungi itu.

"Selama ini ditempatkan dalam kerangkeng kecil sehingga perawatan kurang optimal, jadi kami berinisiatif memindahkan sementara di TWA Seblat karena di sana ada kandang yang lebih luas yang lebih layak," katanya di Bengkulu, Kamis.

Dua harimau itu dibawa ke kawasan konservasi di punggung Bukit Barisan tersebut menggunakan kendaraan roda empat. Selama dalam perjalanan yang memakan waktu empat jam, kedua satwa liar itu dalam kondisi dibius.

Ia menututrkan pengawasan terhadap dua harimau masing-masing bernama Elsa dan Giring itu juga lebih optimal, sebab di TWA Seblat merupakan Pusat Latihan Gajah (PLG) yang diamankan sejumlah polisi hutan dan pawang gajah.

"Pemindahan ini sambil menunggu keputusan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang masa depan kedua harimau itu," ucapnya.

Si Raja Hutan yang dirawat petugas BKSDA tersebut merupakan korban perburuan liar, dan seekor lainnya dievakuasi setelah menyerang petani di wilayah Kecamatan Seluma.

Harimau betina bernama Elsa diselamatkan dari jerat pemburu liar di kawasan hutan di Kabupaten Kaur. Untuk menyelamatkan nyawanya, kaki kanan depan harimau itu terpaksa diamputasi sebab sudah membusuk saat ditemukan petugas.

Sementara harimau jantan bernama Giring dievakuasi dari sekitar perkebunan karet warga di Kabupaten Seluma karena menyerang dan menewaskan seorang petani karet di wilayah itu.

Darwis mengharapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera mengambil keputusan terhadap masa depan kedua harimau itu, sehingga keduanya tidak terlalu lama berada dalam kandang di TWA Seblat.