Jakarta (ANTARA News) - Deflasi September 2015 sebesar 0,05 persen mencerminkan stabilitas harga barang terjaga baik, dan akan mendorong pemulihan sektor riil khususnya perbaikan daya beli masyarakat, kata pejabat Kementerian Keuangan di Jakarta, Kamis.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, dengan stabilitas harga yang terjaga, diharapkan aktivitas masyarakat dan dunia usaha mulai pulih.

Peningkatan produksi dan ekspansi usaha yang tertunda, lanjut Suahasil, akan mulai berjalan. Imbasnya, dunia usaha akan berhenti melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sehingga laju konsumsi domestik akan menggeliat

"Ini harus kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu sektor riil. Jangan sampai lagi ada pengurangan produksi yang dalam," ucapnya.

Dengan deflasi September yang memperlambat inflasi kalender berjalan menjadi 2,24 persen (ytd) dan tahunan (yoy) 6,82 persen, Suahasil meyakini target pemerintah terbaru untuk inflasi di 4,2 persen dapat tercapai di akhir tahun.

Namun, kata dia, masih ada masalah ancaman instabilitas yang harus diwaspadai, yakni fenomena kekeringan akibat El Nino, selain musim konsumsi naik pada perayaan Desember saat Natal dan pergantian tahun tiba.

"Salah satu yang cukup serius di Oktober dan November, mungkin juga sampai Desember adalah kekeringan," ujarnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo optimistis inflasi hingga akhir tahun berada di kisaran empat persen, atau sesuai target pemerintah dan Bank Indonesia.

Untuk sisa 2015, Sasmito menilai, tekanan inflasi akan timbul dari marakanya pembangunan infrastruktur, namun dosisnya relatif kecil. Dia memperkirakan peluang terjadinya indeks harga konsumen masih terjaga baik pada Oktober, dengan kemungkinan terjadinya deflasi kembali.

Oleh karena itu, dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III akan lebih baik dibandung dua triwulan sebelumnya.

"Inflasi kecil, gambaran produktivitas di pariwisata naik, konstruksi juga akan naik. Kalau demand-nya naik itu akan dorong sektor itu berkembang. Juga nilai tukar petani naik. Maka Q3 bisa lebih bagus dari Q2," ujarnya.