Pekanbaru, Riau (ANTARA News) - BMKG menyatakan polusi asap kebakaran lahan dan hutan kini menyelimuti hampir seluruh daerah di Pulau Sumatera, dan berpeluang terbawa angin ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura.


Musibah kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar seperti ini nyaris terjadi saban tahun. Sudah berulang kali pemerintah berupaya menindak pelaku pembakaran, pun protes dari Malaysia dan Singapura kerap diluncurkan.

"Dari data pagi ini, hampir seluruh Sumatera tertutup asap mulai dari Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Riau, Medan hingga Aceh," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sugarin, di Pekanbaru, Jumat.

Ia mengatakan hanya sebagian kecil daerah relatif bersih dari polusi asap, di antaranya Lampung dan sebagian Bengkulu.

Kondisi asap di Pekanbaru, lanjutnya, masih tetap pekat dan hingga Jumat siang. Jarak pandang hanya berkisar 700 meter.



Polusi asap ini "produk" kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau yang terbawa angin dari arah selatan ke utara.

"Kalau kondisi kebakaran tidak bisa dengan cepat ditanggulangi, asap akan semakin parah dan berpeluang sampai ke negara tetangga karena angin bergerak dari Selatan ke Utara," katanya.

Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua pada pukul 05.00 WIB, ia mengatakan ada sebanyak 362 titik panas di Pulau Sumatera.



Sebaran titik panas paling banyak di Sumatera Selatan ada 173 titik, Jambi 148 titik, Riau 31 titik, Bangka Belitung delapan titik, Lampung dan Sumatera Barat masing-masing satu titik.

Ia mengatakan khusus di Riau, jumlah titik panas yang dipastikan adalah titik api kebakaran dengan tingkat keakuratan di atas 70 persen terdapat 24 titik.

"Titik api paling banyak di Indragiri Hulu ada 12 titik, Pelalawan 10 titik, serta Rokan Hulu dan Indragiri Hilir masing-masing satu titik," katanya.

Sementara itu, di Kota Pekanbaru asap pekat masih menyelimuti dan membuat kualitas udara tercemar hingga tingkat berbahaya.