Balikpapan (ANTARA News) - Penjualan rumah di Kalimantan Timur menurun sampai 50 persen pada semester pertama 2015.

"Ini dampak dari lesunya pertambangan, baik batubara maupun migas," kata Sekretaris Umum DPD Real Estate Indonesia (REI) Kalimantan Timur Bagus Susetyo, Rabu.

Menurut Bagus, tren penurunan penjualan telah terjadi sejak empat bulan terakhir 2014. Penurunan penjualan terjadi hampir di seluruh kelas perumahan, mulai dari perumahan kelas bawah, kelas menengah bawah, kelas menengah atas, hingga perumahan kelas mewah.

Perumahan kelas menengah atas dan kelas mewah yang paling merasakan imbas dari lesunya bisnis batu bara.

"Yang paling merasakan itu perumahan kelas menengah atas dan mewah, yang harga jualnya di atas Rp500 juta, perumahan kelas ini sudah menurun sekali. Sementara rumah dengan harga Rp200-300 juta masih ada penjualan meskipun menurun juga," lanjut Bagus Susetyo.

Menurunnya daya beli masyarakat ini, jelas Bagus, berkaitan dengan tujuan pembelian rumah. Rumah kelas menengah atas dan kelas mewah pada umumnya dibeli untuk tujuan investasi.

Lain halnya dengan pembelian rumah kelas menengah bawah seharga Rp200-300 juta dan kelas bawah seharga di bawah Rp200 juta, yang tujuannya memang untuk ditempati sendiri.

"Maka dari itu penjualan rumah kelas menengah bawah dan kelas bawah tidak terlalu parah imbasnya. Karena masyarakat masih membutuhkan tempat tinggal," jelas Bagus.

Karena itu secara realistis pengembang lebih banyak melakukan pembangunan perumahan kelas menengah bawah dan kelas bawah. REI Kaltim bahkan menargetkan pembangunan 2.500 unit rumah untuk berpartisipasi dalam program sejuta rumah murah.

"Sudah terealisasi 500 unit," ungkap Sekjen REI Kaltim.