Jakarta (ANTARA News) - Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud (GMIST) Mahanaim dan Masjid Al Muqarrabien yang berdiri bersebelahan sejak tahun 1960 di Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara membuktikan kerukunan beragama di Indonesia.

Kedua rumah ibadah tersebut hanya dipisahkan oleh tembok setinggi semeter sehingga jemaah dan jemaat bisa saling bertatap muka dan menyapa.

Jelang kebaktian sore pukul 18.00 WIB dan sholat Maghrib, kedua umat saling menyapa di depan gerbang bangunan tersebut.

"Kami harmonis lebih dari tetangga, tapi seperti saudara," kata Robert Lalela (54) jemaat Gereja Mahanaim, Minggu petang.

"Sejak gereja dan masjid ini bertetangga tahun 1960-an, kami saling membantu dan menjaga. Jika masjid berkegiatan, maka kami menghormati, dan begitu sebaliknya," imbuh Robert.

Suryana (60), jemaah Al Muqarrabien yang tinggal di gang belakang masjid mengatakan sikap saling menghargai adalah kunci kerukunan warga berbeda keyakinan di sana.

"Tidak pernah ada masalah, soalnya warga di sini saling menghargai," kata pria yang sudah bermukim di Tanjung Priok sejak kecil.

Ia menimpali, "Kami warga Tanjung Priok sudah biasa dengan perbedaan karena di sini ada pelabuhan. Banyak warga yang datang berbeda-beda suku dan agama, tapi kami anggap itu biasa."

Adapun rumah ibadah lain yang bersebelahan di Tanjung Priok adalah Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Petra dengan Masjid Jami At Tauhid yang berdiri berurutan dengan RSUD Koja Jakarta Utara.

"Masjid dan gereja yang di samping Rumah Sakit Koja bukti kalau Indonesia bisa rukun," kata Sari Siregar warga Tanjung Priok Jakarta Utara.

Sementara itu, Mario Latuny selaku warga Tanjung Priok dan jemaat GPIB Petra menambahkan, "Kerukunan umat beragama sangat mungkin diciptakan dengan cara mengurangi gesekan antarpemeluk, dan menghindari sikap fanatisme."