Medan (ANTARA News) - Badan Narkotika Nasional menilai Provinsi Sumatera Utara telah masuk kategori "zona merah" atau daerah yang tingkat peredaran dan penyalahgunaan narkobanya sangat tinggi.

"Tidak perlu malu, sekarang lebih gampang mencari narkoba di Sumut dari pada mencari gas," kata Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumut AKBP Joko Susilo dalam dialog yang diselenggarakan salah satu stasiun radio di Medan, Senin.

Menurut Joko, cukup banyak indikator yang menunjukkan Sumut sebagai daerah yang menjadi zona merah dalam peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba.

Ia mencontohkan hasil beberapa survei dan tes kemungkinan menggunakan narkoba yang dilakukan BNN kepada pelajar, PNS, dan pekerja swasta di Sumut.

"Dari survei itu, rata-rata di atas dua persen positif menggunakan narkoba dari berbagai jenis," katanya.

Kemudian, Sumut juga banyak dimasuki narkoba dari berbagai jenis, terutama sabu-sabu yang umumnya berasal dari Malaysia.

Dari survei yang dilakukan BNN terhadap perairan di Sumut, sedikitnya ada 30 "pelabuhan tikus" yang dapat digunakan pengedar untuk memasukkan narkoba tersebut dengan menggunakan kapal-kapal kecil.

Sabu-sabu tersebut umumnya diproduksi di Afghanistan, lalu dibawa melewati Thailand dan Malaysia untuk dipasarkan di Indonesia, termasuk di Sumut.

"Kita sekarang bukan lagi lokasi transit, melainkan konsumen bagi mereka," kata Joko.

Selain itu, kata dia, kerawanan Sumut terhadap narkoba juga dapat terlihat dari adanya upaya untuk menjadikan daerah tersebut sebagai lokasi produksi zat terlarang itu.

Fenomena itu dapat terlihat dari penggerebekan sebuah rumah di kawasan Padang Bulan, Kota Medan beberapa waktu lalu yang menjadi lokasi produksi sabu-sabu.

"Sudah ada upaya coba-coba sebagai produsen sabu-sabu. Meski kualitasnya belum sebagus produk impor, tetapi terlihat indikasi untuk produksi sudah ada," kata mantan Kapolsek Percut Sei Tuan itu.

Dengan cukup banyaknya narkoba yang diedarkan di Sumut, terutama di Kota Medan, hampir tidak ada daerah atau permukiman masyarakat yang bersih dari penyalahgunaan narkoba.

"Tidak ada lokasi khusus lagi karena penyalahgunaannya hampir merata. Mau perumahan kelas mewah, kelas menengah, atau kelas biasa, semuanya rawan," kata Joko.