Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, mengatakan bahwa pihaknya mendorong Afrika Selatan agar bisa menjadi pintu masuk bagi produk-produk dalam negeri untuk menembus pasar-pasar negara Afrika lainnya.

"Saya berharap bagaimana Afrika Selatan menjadi tempat masuknya barang-barang Indonesia ke pasar Afrika," kata Rachmat, seusai melakukan pertemuan bilateral dalam rangkaian acara World Economic Forum on East Asia (WEF-EA), di Jakarta, Minggu.

Pada Minggu (19/4), Rachmat melakukan rangkaian pertemuan bilateral dalam rangka WEF-EA salah satunya dengan Menteri Perdagangan Afrika Selatan, Rob Davies, dan membicarakan beberapa hal terkait peningkatan kinerja perdagangan untuk kedua negara.

Rachmat mengatakan, dalam pertemuan tersebut pada tahun 2015 ini juga akan dilakukan pembahasan lebih lanjut terkait Joint Trade Commission yang sebelumnya pernah dibahas pada 16 Oktober 2012 lalu.

"JTC itu akan membahas kerja sama terkait akses pasar, zona ekonomi spesial, dan capacity building untuk medium enterprises khususnya untuk desain perhiasan, dan ini diharapkan mampu meningkatkan perdagangan antara Indonesia dengan Afrika Selatan," ujar Rachmat.

Rachmat menambahkan, pada tahun 2014 lalu, nilai ekspor Indonesia ke Afrika Selatan mencapai 1,4 miliar dolar Amerika Serikat, sementara untuk impor hanya kurang lebih sebesa 468 juta dolar AS, yang membuat Indonesia mengantongi surplus dari perdagangan kedua negara tersebut.

"Kita punya surplus dari perdagangan dengan Afrika Selatan, saya mau itu ditingkatkan," kata Rachmat.

Beberapa produk unggulan Indonesia yang diekspor ke Afrika Selatan antara lain adalah kelapa sawit, karet alam, perhiasan dan juga kendaraan bermotor. Sementara yang diimpor ke Indonesia antara lain, pulp dan kapas.

Setelah berhasil menjadi tuan rumah pada 2011 lalu, Indonesia kembali dipercaya oleh World Economic Forum (WEF) untuk menjadi tuan rumah WEF-EA ke-24, yang kali ini mengusung tema "Anchoring Trust in East Asia�s New Regionalism".

Pertemuan tersebut akan dihadiri para pemimpin pemerintahan dunia, para CEO, dan cendekiawan serta diperkirakan menjadi ajang bisnis terbesar di Asia Timur. Dan kurang lebih sebanyak 700 CEO atau pimpinan perusahaan dunia direncanakan akan menghadiri perhelatan yang digelar di Jakarta pada 19--21 April 2015.

Beberapa CEO yang akan hadir diantaranya dari Australia, Kamboja, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Italia, Jepang, Kuwait, Lebanon, Malaysia, Myanmar, Belanda, Tiongkok, Filipina, Korea, Rusia, Singapura, Swiss, Swedia, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat.