Muntok (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, memberikan apresiasi terhadap upaya warga Desa Kundi, Simpang Teritip yang sampai saat ini masih mempertahankan adat ceriak atau ritual setelah masa panen padi.

"Kami harapkan adat ritual ceriak nerang dan ceriak nelap tetap terjaga di tengah gempuran arus modernisasi karena adat tersebut mengandung kearifan lokal tinggi dan merupakan identitas masyarakat setempat," ujar Kepala Bidang Informatika Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, dan Informatika Kabupaten Bangka Barat Henry Een Firsanto di Muntok, Rabu.

Ia mengatakan Desa Kundi yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Muntok, selama ini terkenal sebagai salah satu lumbung hasil perkebunan, pertanian, dan kelautan.

Menurut dia, di tengah kemajuan budaya zaman modern yang terbukti mampu menenggelamkan berbagai adat istiadat di beberapa daerah, ternyata tidak berlaku bagi warga Desa Kundi karena mereka masih menjaga kearifan lokal peninggalan nenek moyang.

"Kami akan berupaya terus membantu warga setempat mempertahankan adat ceriak sebagai khasanah budaya lokal yang terbukti memiliki nilai kelestarian alam yang tinggi," kata dia.

Ia mengatakan adat ceriak nerang yang dilaksanakan pada siang hari dan ceriak nelap pada malam hari oleh warga setempat merupakan bentuk keseriusan warga dalam menjaga keseimbangan alam agar tidak rusak akibat ulah manusia.

Ia menerangkan adat ceriak nerang dan nelap merupakan ritual yang dilakukan oleh warga setempat yang dipimpin tetua kampung sebagai bentuk puji syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan rezeki melimpah kepada warga.

"Pada puji-pujian yang dipimpin tetua adat merupakan bentuk syukur atas berkah hasil laut, kebun, sungai, dan hutan yang mereka dapatkan," katanya

Selain itu, katanya, syair yang diungkapkan tetua adat merupakan petuah kepada masyarakat setempat agar tidak melanggar atau serakah dalam mencari dan memanfaatkan alam di sekitarnya.

Menurut dia, sebagian besar masyarakat Desa Kundi meyakini para leluhur juga memiliki andil besar dalam menjaga warga setempat saat beraktivitas di laut atau di darat.

Mereka juga percaya bahwa para leluhur akan memberikan hukuman jika mereka melanggar larangan yang telah dipercaya secara turun temurun.

Ritual ceriak nerang yang dimulai pada pagi hari di hutan adat dipercaya warga sebagai tempat bernaungnya para leluhur penjaga darat dan dilanjutkan pada malam hari di laut.

"Kami berharap adat lokal seperti ceriak nerang dan nelap tetap dijaga sehingga mampu menambah khasanah budaya lokal sekaligus menjaga kelestarian alam di daerah itu," kata dia.