Aljir (ANTARA News) - Pemberontak Tuareg di Mali menolak kesepakatan pendahuluan perdamaian dengan pemerintah Mali, yang menandatangani perjanjian tersebut dalam upacara di Aljir, Aljazair, Minggu, dan meminta waktu untuk berembuk.

Pemberontak tersebut mengatakan bahwa kesepakatan perdamaian itu belum memenuhi permintaan politik mereka terkait wilayah, yang mereka sebut Azawad.

Namun, dalam upacara penandatanganan tersebut, kelompok pemberontak Tuareg dan pemberontak Arab menyatakan berjanji melanjutkan pembicaraan perdamaian.

"Kesepakatan itu bukan untuk menyelesaikan semua permasalahan, namun langkah awal menuju perdamaian dan rujuk," kata pernyataan kelompok penengah antarbangsa untuk kemelut tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa berusaha meredam pemberontakan dan ketidakstabilan di utara Mali, di mana negara-negara Barat khawatir atas kembalinya para milisi Islam, dua tahun setelah mereka diusir oleh pemerintah dengan bantuan tentara Prancis, demikian Reuters melaporkan.

(M054/B002)