Amman (ANTARA News) - Pemerintah Jordania pada Selasa (3/2) mengkonfirmasi dibunuhnya pilot berkebangsaan Jordania yang ditawan oleh Negara Islam (ISIS), demikian laporan kantor berita resmi Jordania, Petra.

Pada hari yang sama, Angkatan Bersenjata Jordania menyatakan akan melakukan pembalasan atas dibunuhnya pilot tersebut.

Militer mengatakan di dalam satu pernyataan bahwa militer berusaha menjamin pembebasan pilot itu tapi kelompok fanatik tersebut berkeras untuk membunuhnya.

Di dalam pidato yang disiarkan oleh televisi Jordania, Raja Jordania Abdullah II menyerukan persatuan setelah dibunuhnya pilot tersebut oleh ISIS.

"Kami menerima dengan kemarahan dan kesedihan besar berita mengenai pembunuhan pilot Jordania di tangan penjahat ISIS, yang tak memiliki sangkut-paut dengan Islam," kata Raja Abdullah II, sebagaimana diberitakan Xinhua.

Raja Jordania itu mengatakan pilot tersebut "gugur dalam membela bangsa, negara dan agamanya". Ia menambahkan, "Kewajiban semua warga negara lah untuk bersatu pada saat sulit ini, yang hanya akan membuat kita lebih kuat lagi."

Pilot berkebangsaan Jordania itu ditangkap tahun lalu, setelah pesawatnya jatuh di Suriah.

Pembunuhan pilot tersebut segera menarik pengutukan dari berbagai negara di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya.

Di Sudan, Kementerian Luar Negerinya pada Selasa mengutuk pembunuhan pilot Moaz al-Kassabeh.

Yousif Al-Kurdofani, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Sudan, menggambarkan peristiwa itu di dalam satu pernyataan sebagai kejahatan kejam dan brutal yang bertolak-belakang dengan prinsip dan ajaran Agama Islam.

Ia menyampaikan belasungkawa negaranya kepada rakyat dan Pemerintah Jordania, serta kepada keluarga pilot tersebut.

Dr. Anwar Gargash, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, pada Selasa mengatakan negara Teluk itu mengutuk pembunuhan kejam tersebut.

Di akun Twitternya, Gargash menyebut anggota IS sebagai "kanker yang akan dimusnahkan dari masyarakat kita dan rakyat kita".
(C003)