Jakarta (ANTARA News) - Akuisisi dua perusahaan perkebunan oleh PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk disetujui oleh pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa perseroan tersebut.

"Keputusan untuk akuisisi diyakini sebagai langkah untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan produksi, operasional serta finansial perusahaan," kata Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) Rimbun Situmorang kepada pers usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS-LB) perseroan tersebut di Jakarta, Rabu.

Dua perkebunan sawit yang diakuisisi adalah PT Tanjung Sabit Abadi dan PT Sawit Multi Utama dari PT Citra Borneo Indah.

Dikatakan, alasan untuk akuisisi juga dilatarbelakangi pohon sawit yang ditanam di dua perusahaan tersebut sama dengan pohon yang selama ini ada di perebunan SSMS, selain lokasi yang saling berdekatan.

Selain itu, usia pohon di perkebunan yang baru masih berusia muda yaitu 4,5 tahun hingga lima tahun sehingga bisa memberikan efek positif bagi bisnis di masa mendatang.

"Untuk akuisisi kita telah melakukan ekstra hati-hati karena pohon yang ada harus sama dengan pohon yang kita miliki sehingga tidak terlalu mengganggu kinerja perseroan," kata Rimbun.

Dia optimistis dengan adanya akuisisi tersebut maka kinerja perseroan akan semakin baik dengan total kepemilikan kebun mencapai 59.387 hektare.

"Dengan adanya akuisisi tersebut maka target produksi minyak sait pada 2015 diharapkan 410 ribu ton naik dibanding tahun 2014 sebesar 303 ribu ton," katanya seraya menambahkan sebagian besar kebutuhan dana untuk akuisisi akan dipenuhi dengan menggunakan kas internal perseroan.

Dikatakan pula kinerja keuangan yang sehat akan tetap menjadi salah satu keunggulan perseroan sebagai perusahaan perkebunan yang sebagian besar sahamnya dimilik publik. Laba bersih selama sembilan bulan pertama 2014 tumbuh 39,9 persen menjadi Rp477,6 miliar, sementara penjualan pada periode sama juga naik 23,6 persen menjadi Rp1,56 triliun.

"Kami perkirakan laba bersih perusahaan pada 2014 mencapai Rp735 miliar naik 16,4 persen dibanding perolehan laba 2013, katanya

Harga CPO yang fluktuatif dan cenderung melemah selama 2014, dikatakan, sebagai tantangan berat sepanjang tahun ini. Harga CPO yang tak baik pada kuartal kedua 2014 karena koreksi musim panas el nino, bahkan pada kuartal ketiga tahun ini masih tertekan karena pasokan minyak nabati meningkat setelah panen baik di Amerika Serikat.