Bandung (ANTARA News) - Para pendekar pencak silat se-Indonesia akan mengikut "Temu Pendekar Pencak Silat ke-3 tahun 2014 yang akan digelar di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Kota Bandung, Sabtu (27/12).

"Kegiatan temu pendekar ini dalam rangka melestarikan pencak silat, baik pencak silat olahraga maupun tradisi," kata seorang penggerak Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi) Asep Gunawan di Bandung, Kamis.

Temu pendekar yang akan digelar akhir tahun 2014 juga sebagai rangkaian dari persiapan menjelang Temu Pendekar Pencak Silat Internasional yang akan digelar Mei 2015. Pada ajang itu akan ditampilkan festival pencak silat seni, workshop aliran dan pameran.

Pada Temu Pendekar Pencak Silat yang akan digelar Sabtu lusa, menurut Asep akan melibatkan pesilat-pesilat belia dari tingkat pelajar SD yang akan menampilkan garapan tematik berjudul "Cinta Tanah Air".

"Mereka akan tampil di acara tanggal 27 ini menampilkan garapan tematik, cinta tanah air," katanya.

Ia mengatakan silat mengalami penurunan minat di kalangan siswa, karena pencak silat hanya sebatas ekstrakurikuler dan tidak memasukkan silat dalam muatan lokal di sekolah dari SD sampai SMA.

"Silat hanya ada di ekstrakurikuler, itu juga tergantung sekolahnya. Silat harus diselamatkan melalui pendidikan formal SD sampai SMA," kata Asep.

Ia menyebutkan pencak silat terbagi dua, ada silat sebagai seni tradisi dan silat sebagai bagian dari olahraga. Silat seni tradisi hampir punah di beberapa daerah dan perkembangannya tertinggal pencak silat sport.

"Silat tradisi hampir punah di beberapa daerah, karena tidak adanya dukungan dari pihak pihak tertentu. Sedangkan silat olahraga diiming-imingi dengan bonus bagi yang berprestasi, menjadikan silat olahraga lebih dipilih," katanya.

Silat seni tradisi juga masih jarang diadakan event, berbeda dengan silat olahraga yang sering dan ada di tiap daerah. Bahkan di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional, silat yang dipertandingkan juga silat olahraga dengan standard yang telah ditetapkan.

"Padahal silat tradisi bisa menunjang pendidikan dan pola pikir siswa, diantaranya pendidikan mental spiritual, beladiri, seni, olahraga, olah rasa dan olah jiwa," katanya.

MASPI berusaha melestarikan silat tradisi dengan membuat event, festival atau pasanggiri dengan merangsang perguruan agar aktif kembali.

"Salah satunya contohnya seperti pertemuan pendekar dari beberapa tokoh aliran atau perguruan pencak silat dari Jawa Barat setiap tiga bulan sekali," kata Asep Gunawan menambahkan.