Washington (ANTARA News) - Pemimpin masyarakat suku kecil Uighur Tiongkok di pengasingan percaya unjuk rasa besar-besaran di Hongkong mengilahmi rakyat Uighur di Xinjiang.

Pernyataan Rebiya Kadeer itu membuat gusar Beijing. Ia mengatakan kepada majalah "Foreign Policy" bahwa unjuk rasa di Hongkong itu dapat memberikan dampak luas bagi masyarakat Uighur di bagian barat Tiongkok.

Unjuk rasa Hongkong "sangat mengilhami" bagi warga Uighur, kata Kadeer, yang memimpin Kongres Uighur Dunia, sebagaimana dikutip dalam sebuah wawancara di laman majalah tersebut.

"Jika Hongkong menang, itu akan menguntungkan Uighur juga, dan kemudian Uighur dapat memperkuat gerakan mereka sendiri."

Hari-hari aksi demonstrasi damai di Hongkong diwarnai dengan puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyeru Beijing guna memberlakukan pemilihan umum yang bebas di kota semiotonom itu.

Kadeer mengatakan, dia yakin dengan adanya perhatian internasional pada Hongkong maka tidak akan ada penggunaan kekerasan dalam penyelesian aksi protes itu.

"Rakyat Hongkong - mereka berjuang dengan cara yang sangat damai," katanya.

"Pemerintah Tiongkok tidak bisa menekan mereka dengan kekerasan," tambah Kadeer, 67, yang menghabiskan 11 tahun di balik jeruji besi di Tiongkok sebelum diperbolehkan untuk pergi ke pengasingan di Amerika Serikat pada tahun 2005.

Xinjiang, daerah kaya sumber daya alam yang berbatasan dengan Asia Tengah, adalah rumah bagi sekitar 10 juta rakyat Uighur, yang sebagian besar mengikuti Islam Sunni.

Wilayah ini telah dilanda peningkatan aksi kekerasan yang pada tahun lalu telah merembet ke bagian lain Tiongkok.

Tiongkok menyalahkan kerusuhan di wilayah tersebut pada teroris terorganisir yang terpengaruh ekstremis agama dan kelompok di luar negeri.
(G003/B002)