Malang (ANTARA News) - Sedikitnya 189 produk makanan dan minuman yang diproduksi usaha kecil menengah (UKM) di Kota Malang, Jawa Timur, tidak memiliki lisensi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni di Malang, Sabtu mengakui adanya sejumlah produk UKM tersebut memang belum mengantongi SNI, meski label SNI tersebut sangat penting agar bisa bersaing secara global, apalagi tidak lama lagi juga sudah diterapkan perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Dari ratusan produk makanan dan minuman yang dihasuilkan UKM di daerah ini, hanya sekitar 10 persen saja yang memiliki label SNI. Kami terus berupaya mendorong dan mengupayakan agar produk-produk UKM ini segera berlisensi SNI agar bisa bersaing dalam era perdagangan bebas nanti," ujarnya.

Ia mengaku terus terus melakukan komunikasi intensif dengan Pemprov Jatim agar setiap produk UKM punya SNI karena persyaratan untuk mendapatkan label SNI tidak mudah, sehingga para pengusaha UKM yang mengurus SNI ini bisa dibantu.

Untuk mendapatkan label SNI, katanya, produk UKM tersebut harus diuji di laboratorium milik Pemprov Jatim karena Pemkot Malang tidak memiliki alat maupun sarana pengujian. Sebenarnya kualitas porduk UKM di Kota Malang sangat bagus, namun label SNI ini penting dan wajib penting dimiliki setiap produk untuk bisa bersaing secara global.

Ida mengatakan selain memfasilitasi agar produk UKM segera memiliki label SNI, Disperindag daerah itu juga rutin memberikan bimbingan teknis (bimtek) mengenai pengembangan produk UKM. "Bimbingan ini diberikan agar pelaku UKM mampu bersaing dengan produk-produk UKM dari berbagai daerah, bahkan secara internasional," ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, produk UKM Kota Malang sudah banyak dikenal, baik untuk lokal Jatim maupun secara nasional, seperti keripik tempe Sanan, bakpia mangkok, kripik buah-buahan serta produk UKM lainnya. "Kalau tidak kita bantu kan sayang, produk UKM kita ini sudah menasional, bahkan tidak sedikit yang sudah dikirim ke beberapa negara," katanya.

(E009/M026)