Jakarta (ANTARA News) - Asap tebal yang terjadi akibat kebakaran hutan di Kabupaten Indragiri Hilir dan Pelalawan, Provinsi Riau perlu diwaspadai masuk ke Singapura dan Malaysia, kata Kepala Sub Bidang Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) M Fadli, di Jakarta, Rabu.

Satelit NOAA 18 Rabu sore mendeteksi 22 titik api di Indragiri Hilir dan Pelalawan.

"Kondisi itu belum mempengaruhi Singapura dan Malaysia, tetapi perlu diwaspadai agar titik api tidak berkembang, terutama saat musim kemarau," katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pada awal tahun ini, asap akibat kebakaran hutan di Riau cenderung meningkat, terutama pada saat musim kemarau.

"Kalau titik kebakaran hutan bertambah pada saat ini, maka akan mengganggu Singapura dan Malaysia," katanya.

Asap yang menyelimuti Riau tidak hanya berasal dari kebakaran hutan yang terjadi di Indragiri Hilir dan Pelalawan, tapi juga "kiriman" dari Sumatra Selatan dan Jambi.

Titik api di Sumatra Selatan mencapai 194, dibawa angin dari tenggara menuju Riau.

"Paling parah itu di Sumatra Selatan, dibanding Jambi dan Riau," ujarnya.

Fadli mengatakan jarak pandang di Riau tidak normal. Pagi hari, jarak pandang hanya 1,5 km, padahal jarak pandang normal 7-10 km.

Di Sumatra Selatan justru jarak pandang mencapai 3-4 km, karena asap dibawa angin ke Riau.

"Seperti membakar arang, asap tebal tidak mengepul, melainkan dibawa angin," katanya.