PBB, New York (ANTARA News) - Satu laporan PBB di New York, Kamis (28/8), mengatakan negara pulau kecil sekarang menghadapi kondisi sosial dan ekonomi yang rentan.

Temuan tersebut termaktub di dalam "the State of Human Development in Pacific: a report on velnerability and exclusion in a time of rapid change", yang diluncurkan di markas PBB di New York.

Laporan itu dipusatkan pada tantangan negara kecil dan saran bagi negara yang menanggulangi tantangan pembangunan kemanusiaan seperti ekonomi yang lemah, kemiskinan, perlindungan sosial yang memburuk dan peningkatan migrasi.

Saat memberi penjelasan kepada pers di Markas PBB, New York, mengenai laporan tersebut, Nicholas Rosellini --Wakil Direktur Program Pembangunan PBB (UNDP) Biro Regional bagi Asia dan Pasifik-- berkata, "Di seluruh sebagian (negara kecil), angka kemiskinan rumah tangga dengan tiga anak atau lebih didapati antara 27 persen dan 63 persen lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata nasional."

Rosellini mengatakan generasi muda dan perempuan layak mendapat perhatian paling banyak di negara yang rentan, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat siang. "Perempuan memiliki akses lebih rendah pada lapangan kerja dan mereka seringkali bekerja di satu sektor informasi tanpa hak hukum, keamanan sosial atau kesejahteraan," katanya.

Selain itu, katanya, "perekonomian beralih dari sistem tradisional yang dibangun sebagai imbalan dari produksi ke pasar menciptakan sistem yang berlandaskan uang kontan".

Peralihan ekonomi secara cepat di dalam wilayah negara kecil telah mengakibatkan pertumbuhan yang rendah dan rentan.

Lebih khusus lagi, terciptanya lapangan kerja telah menjadi kian sulit, katanya.

Untuk memerangi kesulitan yang meningkat, laporan tersebut menjabatkan ringkatan saran kebijakan. Di dalam daftar tersebut, perlindungan sosial disebutkan sebagai prioritas utama serta peningkatan akses ke pendidikan dasar buat anak-anak dan pemuda.

(C003)