Bandung (ANTARA News) - Pengamat politik dari Universitas Parahyangan Bandung, Asep Yusuf, menyatakan, golput makin tidak laku karena tingkat partisipasi Pemilu di Indonesia kian membaik.

"Saat ini antusiasme masyarakat sudah meningkat, jarang sekali saya dengar orang-orang memilih dan memutuskan untuk golput," kata Yusuf, di Bandung, Rabu.

Menurut dia, fenomena itu bisa mendorong kualitas Pemilu lebih baik lagi. Bila dibandingkan dengan Pemilu Legislatif 9 April lalu, persentase pemilih pada Pemilu Presiden 2014 bisa tingkat partisipasi 10-15 persen di atas Pemilu Legislatif.

Asep menyebutkan, antusiasme masyarakat kian besar untuk mengikuti pemilu, termasuk Pemilu Presiden yang prosesnya pencoblosannya lebih mudah.

Ia menyebutkan, tidak semua orang yang tidak bisa memberikan hak pilihnya disebut apatis.


Menurut dia, ada empat jenis golput berdasarkan pada beberapa faktor. Golput yang pertama, kelompok yang tidak memilih secara rasional dan merasa tidak ada satupun yang cocok dengan ideologi pemilih.

"Untuk model pertama adalah model yang rasional, dia tidak berkenan dengan calon yang ia pilih, dia merasa calon-calon ini tidak cukup layak," kata Asep.

Model kedua, pemilih apatis. Pemilih model ini menurut dia, mereka yang merasa tidak ada hal yang berubah bila mengikuti Pemilu.

"Model kedua, yang merasa Pemilu ini tidak penting, dia tidak merasa nasibnya tidak akan berubah meskipun dia sudah memilih, mereka ini yang disebut apatis," kata dia.
Ketiga, pemilih yang tidak sempat memilih karena urusan-urusan tertentu. Kegiatan atau masalah yang tidak bisa dihindari seperti sakit atau acara keluarga.

Sedangkan alasan terakhir menjadi golput, pemilih yang tidak terdaftar ke dalam DPT di daerahnya. Pemilih ini tidak sempat mengurus hak pilih atau tidak sama sekali mengurus sehingga tidak mengikuti pemilu.