Braja Selebah, Lampung Timur (ANTARA News) - Warga Desa Braja Kencana Kecamatan Braja Selebah Lampung Timur, memiliki keunikan tersendiri saat mengingatkan para warga untuk melakukan sahur dengan cara memainkan suara alat musik tradisional yang disebut klotean.

Kepala rombongan klotean, Jarwo, di Desa Braja Kencana Lampung Timur, Senin mengatakan, tradisi klotean sudah berjalan dari tahun ke tahun setiap memasuki bulan suci Ramadhan.

"Kami mulai keliling dari jam 2.30 WIB pagi setiap harinya, kami membangunkan dan mengingatkan agar para warga khususnya ibu-ibu untuk menyiapkan hidangan sahur keluarga mereka," katanya lagi.

Alat musik klotean yang terbuat dari Bambu yang menyerupai angklung, gendang, sendok makan dan tutup panci yang sudah tidak terpakai.

Klotean yang dikoordinir oleh Jarwo, berjumlah enam personil, yang masing-masing personil sudah mengerti bagaimana cara memainkan alat musik tradisional itu.

Menurut Jarwo, banyak hal yang bisa dilakukan dalam menambah amal ibadah khususnya di bulan suci Ramadan, salah satu contoh upayanya membangunkan warga untuk mengingatkan waktunya sahur dan imsyak, agar warga tidak kesiangan sehinga menyebakan tidak sahur.

Ia mengharapkan, lewat kloteannya, warga dapat terbantu dalam melaksanakan sahur di bulan suci Ramadhan.

Meskipun hanya berupa klotean, lanjutnya, setidaknya mempunyai niat baik kepada warga dan tidak merugikan masyarakat.

Tradisi Klotean sendiri, mendapatkan antusias dan respon positif dari warga setempat, Wahono, mengatakan, warga desa merasa sangat terbantu mengingat pentingnya sahur dalam menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini.

"Kami sangat berterima kasih kepada mereka yang sudah sukarela membangunkan warga desa agar tidak kesiangan

dalam melaksanakan sahur, terutama ibu-ibu yang sangat terbantu dalam hal ini," ujarnya.

Wahono berharap, tradisi Klotean nantinya agar tetap ada generasi penerus, sehingga kami warga desa dapat melakukan sahur tepat waktu dalam menjalankan ibadah puasa secara khusuk.

(HN*A054/E001)