Bogor (ANTARA News) - Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dr Arif Satrian, mengatakan, saat ini masyarakat membutuhkan netralitas media sehingga dapat membantu mendinginkan suhu politik yang memanas akibat kampanye hitam.

"Ini meredam gejolak Pemilu Presiden ini kita perlu semakin banyak media yang netral," kata Satrian, di Bogor, Sabtu.

Dia mengatakan, pemilihan presiden satu proses demokrasi yang diharapkan dapat mendewasakan masyarakat dalam berpolitik.

Fenomena yang terjadi pada Pemilu Presiden 2014 ini adalah dua pasangan calon yang memiliki karakter kuat dan mendapat dukungan dari massa fanatiknya.

Hujat menghujat, caci memaki, saling menjatuhkan citra antara dua kubu relawan telah mewarnai pesta demokrasi saat ini.

Menurut dia, hal itu wajar terjadi. Terlebih saat ini hanya ada dua calon yang sama-sama memiliki karakter yang kuat.

"Tetapi hujat menghujat, bahkan sampai menjatuhkan dengan isu SARA ini sudah tidak wajar lagi, ini bukan kultur bangsa Indonesia," kata dia.

Di tingkat media, lanjut dia, juga sudah terjadi polarisasi mana media yang mendukung calon ini dan calon yang lainnya. Keberpihakan media massa pada satu calon pemimpin bangsa ini sudah sangat kentara.

Agar kondisi tidak semakin memanas, mau tidak mau media harus bersikap netral.

"Makin banyak media yang berpihak, akan semakin panas situasi. Tapi kalau banyak media yang netral, makin sejuk suasana," ujar dia.

Dia menilai dalam situasi ini Pemerintah tidak diam saja. Presiden juga memiliki instrumen yang berjalan untuk mengendalikan situasi agar tetap kondusif.