Manado (ANTARA News) - Legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata menilai pembinaan atlet muda antara Jawa dan luar Jawa masih timpang sehingga mempengaruhi perkembangan pemain berpotensi.

"Gapnya terlalu jauh. Padahal banyak pemain potensi terutama dari luar Jawa," kata Christian Hadinata di sela kegiatan Djarum Badminton All Stars di GOR Arie Lasut Manado, Sulut, Rabu.

Menurut dia, jauhnya perbedaan pembinaan atlet tersebut terjadi karena kurangnya figur mulai dari pelatih yang berpengalaman serta sudah punya sertifikasi hingga pihak lain yang bisa memberikan perhatian lebih pada pembinaan bulu tangkis di daerah.

"Disinilah pentingnya kualitas sumber daya manusia terutama pelatih supaya atlet daerah lebih yakin. Kualitas pelatih juga harus sama dengan yang di Jawa," katanya menambahkan.

Meski gapnya terlalu jauh, pria yang juga pelatih di pelatnas Cipayung itu menegaskan jika sudah banyak pemain potensial yang diharapkan bisa menjadi penerus bintang bulu tangkis asal Manado diantaranya Liliyana Natsir maupun Greysia Polii.

Pernyataan hampir serupa dikatakan legenda bulu tangkis lainnya yaitu Ivana Lie. Menurut dia, ketimpangan sistem pembinaan juga berdampak pada kualitas pemain meski sudah ada beberapa pemain yang menonjol.

"Sudah kelihatan siapa yang mempunyai kemampuan dasar yang bagus. Saya melihat ada sekitar 15 pemain," katanya di sela memimpin pelatih pemain muda usai 10-12 tahun.

Kedua legenda bulu tangkis Indonesia juga sepakat jika kurangnya kompetisi atau kejuaraan juga mempengaruhi perkembangan atlet muda di daerah. Kondisi berbeda di Jawa. Banyak kejuaraan yang bisa diikuti oleh pemain-pemain potensial.

"Saya melihat pembinaan juga masih kurang intensif. Semoga kedepannya banyak pihak yang bisa berpartisipasi dalam mengembangkan bulutangkis," kata Ivana Lie menambahkan.

Ketua Bidang Pengembangan PP PBSI Basri Yusuf mengakui jika pembinaan antara Jawa dan luar Jawa masih terjadi kesenjangan. Untuk itu dengan adanya kegiatan Djarum Badminton All Stars 2014 diharapkan bisa menambah motivasi pemain muda untuk berlatih dan mengembangkan kemampuannya.

"Program dari Djarum ini searah dengan PBSI. Saya kira program dengan melibatkan pemain legenda sangat efektif dan sebagai parameter bagi anak untuk lebih dekat dengan idola serta menjadi sebuah motivasi," katanya.

Sementara itu perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation Budi Darmawan mengatakan pihaknya akan terus memberikan dukungan demi pengembangan bulutangkis di Indonesia. Apalagi banyak pemain potensial selain di Pulau Jawa.

"Kita harus bisa mempertahankan predikat lima negara terbaik untuk cabang bulutangkis yang salah satunya dengan terus melakukan pembinaan. Manado cukup potensial," katanya.

Sulawesi Utara terutama Manado sebelumnya telah menelurkan beberapa pemain yang telah mengharumkan nama Indonesia diantaranya Liliyana Natsir dan Greysia Polii. Sebelumnya ada nama Deyana Lomban, Flandy Lampele maupun Corry Kawilarang.

Dari 206 pemain muda yang mengikut pelatihan dengan pemain legenda dan pelatnas, banyak didapat pemain potensial. Hanya saja untuk mengembangkan kemampuan terutama turun di kejuaraan di Jawa banyak yang terkendala masalah dana. (B016/D011)