Gaza selatan terima bantuan kemanusiaan via udara, pertama sejak Juli
18 Oktober 2024 09:50 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (kiri) menempelkan stiker negara tujuan penerima bantuan saat pelepasan bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Indonesia ke Yaman, Sudan dan Palestina di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (14/10/2024). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/agr
Gaza City, Palestina (ANTARA) - Bantuan kemanusiaan via udara kembali diterjunkan untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli 2024, ke kawasan Khan Younis di Gaza selatan yang terus digempur Israel selama setahun terakhir.
Saksi mata melaporkan bahwa pesawat tersebut menerjunkan bantuan kemanusiaan di daerah pesisir Al-Qarara di barat Khan Younis.
Namun, "kesalahan teknis" menyebabkan paket bantuan tersebut jatuh menimpa tenda-tenda para pengungsi sehingga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan, menurut saksi mata.
Sebuah sumber medis menyatakan, seorang lansia meninggal dunia dan beberapa pengungsi lain terluka karena insiden itu.
Di tengah agresinya ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, Israel melakukan pembatasan ketat terhadap hampir seluruh pengantaran bantuan kemanusiaan ke kawasan itu, khususnya yang melalui jalur darat.
Pembatasan tersebut menyebabkan kelangkaan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar serta mengakibatkan bencana kelaparan yang menimbulkan korban jiwa, khususnya di kalangan anak-anak dan lansia.
Pihak Palestina dan organisasi HAM internasional menuduh rezim zionis melakukan kejahatan perang dengan mengeksploitasi bencana kelaparan sebagai senjata perang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun terus mendesak Israel membuka perbatasan darat supaya bantuan kemanusiaan yang penting bisa masuk ke Gaza sebelum situasi semakin memburuk dan korban jiwa semakin bertambah.
Sejak 2006, Israel juga terus melakukan blokade ke Jalur Gaza sehingga membuat daerah tersebut dijuluki oleh banyak golongan sebagai "penjara terbuka terbesar sedunia".
Sudah hampir 42.400 warga Gaza, yang sebagian besar wanita dan anak-anak, wafat dan hampir seratusan ribu lainnya terluka akibat agresi Israel yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 dan kini berpotensi memicu konflik kawasan.
Meski menghadapi kecaman internasional dan resolusi PBB yang memerintahkan gencatan senjata segera, Israel tak kunjung menghentikan serangannya di Jalur Gaza.
Sumber: Anadolu
Baca juga: WFP: Tak sampai dua pekan, persediaan makanan di Gaza akan habis
Baca juga: EU kecam AS karena beri Israel waktu soal kondisi kemanusiaan
Baca juga: Komisaris PBB: Israel cegat sistematis bantuan kemanusiaan ke Gaza
Baca juga: FAO soroti statistik kelaparan yang mengkhawatirkan, Gaza paling parah
Baca juga: PBB: Israel halangi 85 persen konvoi kemanusiaan masuki Gaza Utara
Saksi mata melaporkan bahwa pesawat tersebut menerjunkan bantuan kemanusiaan di daerah pesisir Al-Qarara di barat Khan Younis.
Namun, "kesalahan teknis" menyebabkan paket bantuan tersebut jatuh menimpa tenda-tenda para pengungsi sehingga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan, menurut saksi mata.
Sebuah sumber medis menyatakan, seorang lansia meninggal dunia dan beberapa pengungsi lain terluka karena insiden itu.
Di tengah agresinya ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, Israel melakukan pembatasan ketat terhadap hampir seluruh pengantaran bantuan kemanusiaan ke kawasan itu, khususnya yang melalui jalur darat.
Pembatasan tersebut menyebabkan kelangkaan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar serta mengakibatkan bencana kelaparan yang menimbulkan korban jiwa, khususnya di kalangan anak-anak dan lansia.
Pihak Palestina dan organisasi HAM internasional menuduh rezim zionis melakukan kejahatan perang dengan mengeksploitasi bencana kelaparan sebagai senjata perang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun terus mendesak Israel membuka perbatasan darat supaya bantuan kemanusiaan yang penting bisa masuk ke Gaza sebelum situasi semakin memburuk dan korban jiwa semakin bertambah.
Sejak 2006, Israel juga terus melakukan blokade ke Jalur Gaza sehingga membuat daerah tersebut dijuluki oleh banyak golongan sebagai "penjara terbuka terbesar sedunia".
Sudah hampir 42.400 warga Gaza, yang sebagian besar wanita dan anak-anak, wafat dan hampir seratusan ribu lainnya terluka akibat agresi Israel yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 dan kini berpotensi memicu konflik kawasan.
Meski menghadapi kecaman internasional dan resolusi PBB yang memerintahkan gencatan senjata segera, Israel tak kunjung menghentikan serangannya di Jalur Gaza.
Sumber: Anadolu
Baca juga: WFP: Tak sampai dua pekan, persediaan makanan di Gaza akan habis
Baca juga: EU kecam AS karena beri Israel waktu soal kondisi kemanusiaan
Baca juga: Komisaris PBB: Israel cegat sistematis bantuan kemanusiaan ke Gaza
Baca juga: FAO soroti statistik kelaparan yang mengkhawatirkan, Gaza paling parah
Baca juga: PBB: Israel halangi 85 persen konvoi kemanusiaan masuki Gaza Utara
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2024
Tags: