PBB, New York (ANTARA News) - Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) prihatin terhadap berbagai peristiwa, temasuk serangan, penahanan dan gangguan terhadap stafnya, yang terjadi belum lama ini dan membuat personelnya menghadapi resiko keamanan serius.

"Misi tersebut mencela prilaku orang yang diduga sebagai anggota pasukan keamanan, yang menyerang dan menahan secara tidak sah dua anggota stafnya dalam peristiwa terpisah di (Ibu Kota Sudan Selatan) Juba, dalam beberapa hari belakangan ini," kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam taklimat harian di Markas PBB, New York, Kamis.

"Tindakan ini tidak sah dan pelanggaran jelas atas Status of Forces Agreement (SOFA), yang mengatur hubungan antara UNMISS dan Pemerintah Sudan Selatan," kata Dujarric.

SOFA memiliki hak dan keistimewaan personel asing di negara tuan rumah untuk mendukung pengaturan keamanan yang lebih luas.

"Ini bertolak-belakang dengan jaminan terbuka yang diberikan oleh Presiden Salva Kiir setelah pertemuannya dengan sekretaris jenderal (PBB) awal Mei berkaitan dengan komitmen pemerintah untuk bekerjasama dengan Misi PBB di Sudan Selatan," kata Dujarric, sebagaimana dikutip Xinhua.

Misi PBB telah meminta Pemerintah Sudan Selatan agar "segera menyelidiki pelanggaran ini dan menyeret para pelakunya ke pengadilan," katanya.

"Misi tersebut juga menuntut semua pihak menjamin kebebasan bergerak tanpa halangan bagi PBB dan keselamatan stafnya serta pekerja kemanusiaan," katanya.

Pada April, UNMISS terus melaporkan kesulitan yang meningkat dalam kondisi kerja dan gangguan lain terhadap personelnya serta mitranya di tengah kebutuhan akan bantuan kemanusiaan yang meningkat dan meskipun ada jaminan dari Pemerintah Sudan Selatan belum lama ini.

Misi itu menekankan ancaman semacam itu, seperti penggeledahan paksa atas kendaraan PBB, penerbangan dan rombongan, dan pengekangan untuk bergerak dengan leluasa, merupakan pelanggaran terhadap SOFA.

(C003)