Jakarta (ANTARA News) - PT. Bintan Alumina Indonesia menyatakan 70 persen hasil alumina dari kemitraan pengolahan dan pemurnian (smelter) dengan perusahaan Tiongkok, Nanshan Group, akan diekspor dengan sebagian besar ke Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Porsinya 70 (persen) berbanding 30 (persen), sebagian besar akan ke Amerika Serikat, China," kata Direktur PT. Bintan Alumina Indonesia Santony usai melakukan kunjungan ke Kementerian Perindustrian di Jakarta, Kamis.

Kapasitas produksi dari smelter pengolahan bauksit menjadi alumina itu dapat mencapai 2,1 juta ton setiap tahunnya, dan diperkirakan pembangunan smelter akan rampung pada 2017. Pada 2015, setelah smelter itu mulai dibangun, kapasitas produksi dapat dimulai dengan menghasilkan 700 ribu ton, dan akan naik dua kali lipat untuk tahun berikutnya.

Santony mengatakan, perusahaan kemitraan Bintan dengan Nanshan itu menyiapkan investasi Rp11 triliun atau setara satu miliar dolar AS.

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat menjelaskan, selain investasi satu miliar dolar AS untuk smelter, investasi dari perusahaan Tiongkok juga akan mencakup infrakstruktur, dan pembangkit listrik yang dapat berjumlah lima miliar dolar AS.

Namun, menurut Hidayat, pemasangan tiang pancang untuk pembangunan smelter itu kemungkinan ditunda beberapa bulan dari jadwal semula pada Mei 2014. "Tapi akan tetap tahun ini dimulai pembangunannya," ujar Hidayat.

Dengan dimulainya pembangunan smelter ini pada 2014, Hidayat memperkirakan pada akhir 2015, smelter ini sudah dapat melakukan produksi seperti rencana yakni 700 ribu ton alumina, pada tahap awal. Menurut Hidayat, Bintan Alumina merupakan salah satu perusahaan yang serius ingin membangun smelter dan melakukan nilai tambah untuk komoditi bauksit.

Hidayat menginginkan, setidaknya sembilan perusahaan merealisasikan pembangunan smelter pada 2014 ini, dan tidak hanya melontarkan wacana untuk menyenangkan pemerintah.

"Bagus jika, sembilan industri bisa realisasi smelter tahun ini, jangan hanya wacana saja," ujar dia.