Jakarta (ANTARA News) - Budayawan Radhar Panca Dahana berpendapat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bisa saja membuka peluang bagi cawapres dari pihak militer seperti Panglima TNI Jenderal Moeldoko untuk mendampingi capres yang diajukan partainya, Joko Widodo.

"Mega itu pada dasarnya idealistis, enggak bisa dibeli. Tapi pada titik tertentu dia akan mempertimbangkan secara fragmatis juga," kata Radhar di Jakarta, Jumat.

Hal seperti itu, menurut dia, sama ketika pada akhirnya partai mendeklarasikan Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, sebagai capres pada 14 Maret lalu. Padahal sebelumnya pihak PDIP tegas menyatakan bahwa tidak akan mengajukan nama capres sebelum Pileg berlangsung pada 9 April mendatang.

"Begitu juga saat dia bilang tidak ada posisi untuk militer, saat titik tertentu dia merasa terdesak, pasti akan terbuka juga," ujarnya.

Menurut dosen UI itu, sejumlah nama seperti Jenderal TNI Moeldoko dan Jenderal (Purn) Wiranto potensial dipilih untuk mendampingi Jokowi.

Sementara Prabowo, sudah tentu tidak akan masuk daftar hitungan karena sentimen pribadi dengan Megawati.

Begitu pula dengan Pramono Edhie Wibowo yang merupakan kader Partai Demokrat.

"Tidak mesti Moeldoko, Wiranto juga bisa. Meski memang, PDIP jika dilihat tidak akan berkoalisi dengan militer, karena kita tahu bagaimana hubungan Mega dengan militer. Tidak juga dengan Demokrat karena psikologi pendendam dan psikologi feminis dengan partai penguasa pimpinan SBY itu," ujarnya.
(A062/Z002)