Texas (ANTARA News) - Penembakan terkini di Fort Hood, Texas, menyoroti upaya tentara Amerika Serikat, yang putus asa, mengamankan pangkalannya dari penembak, yang semakin melihat sarana itu sebagai sasaran menarik.

Seorang tentara dengan masalah kesehatan jiwa menewaskan tiga orang dan melukai 16 lagi di Fort Hood, Texas, bergerak dari satu gedung ke yang lain untuk menembakkan pistol semi-otomatik sebelum bunuh diri, kata tentara, lapor Reuters.

Itu penembakan ketiga di pangkalan tentara Amerika Serikat dalam lebih dari enam bulan, dengan kenangan masih segar atas penembakan di Washington Navy Yard pada September dan akhir bulan lalu di Markas Angkatan Laut Norfolk di Virginia.

Pembicaraan itu muncul di tengah perbantahan sengit tentang cara mencegah penembakan massal di kalangan penduduk Amerika Serikat. Soal tersebut naik ke puncak agenda negara setelah pembunuhan 20 anak-anak dan enam orang dewasa di sekolah dasar Newtown, Connecticut, pada Desember 2012.

Menteri Pertahanan Chuck Hagel menyatakan kejadian terkini di Fort Hood menunjukkan bahwa ada masalah, yang perlu ditangani.

"Sesuatu tidak berjalan," kata Hagel, "Ketika kita mengalami tragedi semacam ini di pangkalan kita."

"Jadi, kita harus mengenalinya, mencari bukti dan memperbaikinya," kata Hagel kepada wartawan, dengan berdiri di anjungan penerbangan USS Anchorage, kapal amfibi, di Hawaii.

Fort Hood sudah merombak keamanannya untuk menangani lebih baik "ancaman orang dalam" setelah dokter jiwa Angkatan Darat pada 2009 mengamuk dengan menembak mati 13 orang dan melukai 32 lagi. Ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati dengan disuntik.

Letnan Jenderal Mark Milley, komandan pangkalan itu, menyatakan perbaikan keamanan tersebut membantu membatasi kerusakan dari penembak itu, yang bertugas empat bulan di Irak pada 2011.

"Saya pikir, tanggapan penegak hukum dan orang kesehatan menunjukkan pelajaran jelas dari perkara sebelumnya," kata Milley, dengan menggambarkan tanggapan cepat polisi militer menghadapi penembak itu dan penanganan kesehatan atas korbannya.

Hanya lebih dari dua pekan lalu, Hagel meluncurkan tinjauan atas penembakan Navy Yard, yang menyimpulkan amukan menewaskan 12 orang itu dapat dihindari jika kekhawatiran tentang kesehatan jiwa pria bersenjata itu ditangani dengan baik.

Hagel mendukung pembentukan pusat pengelolaan dan pengulasan ancaman orang dalam di Pentagon dan pindah ke tata dengan pemantauan lebih baik atas anggota dengan izin keamanan.

Dalam perkara Norfolk, seorang warga terus masuk pangkalan dan menembak mati seorang pelaut di kapal perusak Angkatan Laut sebelum dibunuh.

Sementara beberapa pengamat mempertanyakan apakah penembak selalu dapat dihentikan, Hagel menolak gagasan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Ia menyerukan kesabaran, sementara penyidik mengumpulkan bukti.

"Kami tidak punya pilihan selain mengatasi yang terjadi dan melakukan semua kemungkinan untuk menjamin keamanan orang kita, yang bekerja di pangkalan tersebut," kata Hagel.

"Itu bukan masalah atau tantangan terlalu sulit. Kami akan melakukannya," katanya.


Penerjemah: Boyke Soekapdjo