Jakarta (ANTARA News) - Lawatan empat hari Presiden Vietnam Truong Tan Sang ke Jepang yang berakhir Rabu (19/3) merupakan kegiatan kebijakan luar negeri Vietnam terbaru tahun ini sebagai upaya untuk memperdalam hubungan kedua negara itu.

Presiden Sang, yang pernah melawat ke Indonesia Juni lalu, telah menyerukan investasi lebih banyak lagi dari Jepang sebagai mitra penting bagi industrialisasi dan modernisasi Vietnam.

Vietnam memiliki strategi industrialisasi yang di dalamnya termasuk kerangka kerja sama Vietnam-Jepang hingga 2020 dan visi 2030.

Tujuh bidang yang diberi prioritas ialah eletronik, peralatan pertanian, pemerosesan pertanian-perikanan, pembuatan kapal, lingkungan hidup dan penghematan energi, industri otomotif dan suku cadang.

Lebih 40 tahun setelah pembukaan hubungan diplomatik secara resmi, kemitraaan strategis antara Vietnam dan Jepang mengalami kemajuan berarti.

Vietnam memandang Jepang sebagai mitra penting dan terpercaya di Asia. Begitu juga Jepang.

Hubungan politik kedua negara itu telah memfasilitasi kerja sama yang terus berkembang di berbagai bidang.

Untuk menunjukkan hubungan baik antara kedua negara dan merayakan Tahun Persahabatan Vietnam-Jepang, Perdana Menteri Shinzo Abe mengadakan kunjungan resmi ke Vietnam awal tahun 2013.

Ini kunjuungan pertama Abe keluar negeri setelah dia naik ke tampuk kekuasaan pada Desember 2012.

Sebelumnya dalam kunjungan resmi ke Jepang pada Oktober 2011, PM Nguyen Tan Dung dan mitra sejawatnya dari Jepang Yoshihiko Noda menyepakati 2013 sebagai "Tahun Persahabatan Vietnam-Jepang", untuk memperingati ulang tahun ke-40 hubungan diplomatik kedua negara itu.

Di bidang ekonomi khususnya, Jepang merupakan investor dan donor terbesar bantuan pembangunan resmi (ODA).

Perdagangan kedua negara naik dari 8,5 miliar dolar AS pada 2005 jadi 17 miliar dolar pada 2008 dan hampir 26 miliar dolar pada 2012. Diyakini nilai perdagangan kedua negara itu bisa mencapai 50 miliar dolar-60 miliar dolar pada 2020.

Pada akhir Juli 2013, Jepang memiliki 2.072 proyek di Vietnam dengan total investasi yang tercatat senilai 33,66 miliar dolar.

ODA Jepang ke Vietnam mencapai 24 miliar dolar, sekitar 30 persen dari bantuan yang dijanjikan semua negara kepada Vietnam.

Banyak grup dan perusahaan Jepang yang berhasil beropereasi di Vietnam seperti Sumitomo Coporation, Mitsubishi Corp., Canon dan Panasonic.

Sebanyak 90 persen dari perusahaan-perusahaan Jepang mengatakan mereka berencana untuk memperluas kegiatan bisnisnya di Vietnam, menurut survei seperti diberitakan radio milik negara Voice of Vietnam.

Japan External Trade Organization (JETRO) dalam surveinya menyebutkan kegiatan usaha dari perusahaan-perusahaan Jepang di Asia dan Oseania mengtakan bahwa 60 persen dari perusahaan- perusahaan Jepang di Vietnam membukukan laba pada 2013.

Menurut survei JETRO yang disiarkan di Hanoi, lingkungan bisnis dan investasi di Vietnam telah menyajikan beberapa perbaikan pada 2013 termasuk stabilitas sosial-politik, rekruitmen tenaga kerja mudah dan peningkatan ukuran pasar.

Namun perusahaan-perusahaan Jepang mengeluhkan beberapa kelemahan yang Vietnam harus hapus untuk memfasilitasi lingkungan bisnis dan investasi negara itu, termasuk kesulitan transportasi, telekomunikasi yang asinkron, listrik dan industri pendukung serta ketrampilan terbatas komunikasi bahasa asing pekerja lokal, kata survei itu.

Perusahaan-perusahaan Jepang juga menghadapi risiko lainnya selama proses investasi mereka, termasuk prosedur berlebihan dan kebijakan yang samar-samar dalam rezim pajak dan prosedur kepabeanan, menurut survei itu.

Dalam pidatonya di parlemen (Diet) Selasa (18/3), Presiden Sang mengatakan stabilitas politik dan biaya tenaga kerja yang masuk akal menarik investor Jepang.
Ia berjanji akan berupaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk menarik modal dari Jepang.

Kedua negara itu juga menjalin kerja sama di bidang-bidang lain seperti pendidikan, sains dan teknologi, kebudayaan, olah raga dan pariwisata.

Selama bertahun-tahun hingga sekarang, Jepang telah membantu Vietnam melakukan riset, pengembangan sumber daya manusia terkait dengan teknologi produksi tenaga nuklir, konstruksi dan operasi sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir.

Kedua pemerintah telah meneken dokumen-dokumen penting yang bertujuan mempercepat kerja sama dalam penggunaan tenaga nuklir bagi tujuan damai.

Selain itu, kerja sama di bidang hubungan luar negeri, keamanan dan pertahanan nasional juga berkembang karena adanya saling percaya dan memahami dengan dilandasi kemitraan strategis.

Vietnam konsisten
Pada bagian lain pidatonya di Diet, Presiden Sang juga menegaskan penolakan terhadap paksaan dan ancaman militer.

Ia menyebut Vietnam selama ini telah secara konsisten mendukung penyelesaian sengketa dengan cara-cara damai dan sesuai dengan hukum internasional.

Vietnam dan Jepang berada di kawasan Asia-Pasifik yang kini berada dalam situasi tidak menentu akibat distribusi kekuatan yang semakin tidak jelas perkembangannya.

Selain Jepang setidaknya ada kekuatan utama dunia lainnya di Asia-Pasifik yakni Amerika Serikat, China, India, Rusia, Korea Selatan, ASEAN, Australia dan Brazil.

Masing-masing negara besar yang memiliki pengaruh di kawasan memiliki persoalan mereka sendiri baik secara internal maupun eksternal akibat perubahan-perubahan dalam negeri dan lingkungan strategis mereka.

Sementara China dan negara-negara tetangganya bersengketa soal kepemilikan dan hak maritim di Laut China Timur dan Laut China Selatan, Amerika Serikat telah menyatakan komitmen sesuai dengan perjanjiannya untuk membela dua negara yang menentang klaim China (Jepang dan Filipina) dan telah menjalin hubungan erat dengan negara ketiga (Vietnam).

Pembicaraan antara Presiden Sang dan PM Abe mempunyai arti penting dan mempunyai dampak tidak hanya bagi hubungan Vietnam dan Jepang tetapi juga bagi kawasan.

Kedua negara itu telah menaikkan hubungan mereka ke level baru Kemitraan Strategis Ekstensif bagi perdamaian dan kesejahteraan di Asia.