Washington (ANTARA News) - Pemerintah Amerika Serikat mulai mengembangkan teknologi komunikasi antarmobil (vehicle-to-vehicle/V2V).

Teknologi tersebut menjadikan kendaraan dapat "berbicara" satu sama lain sehingga dapat menghindari tabrakan.

Badan Nasional Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Amerika Serikat (NHTSA) yang berada di bawah Departeman Transportasi, mengumumkan rencana tersebut, Senin.

Menteri Transportasi AS, Anthony Foxx, mengatakan teknologi antarkendaraan adalah generasi selanjutnya dalam kemajuan segi keamanan mobil setelah sabuk pengaman dan airbag.

"Dengan menjadikan pengemudi mampu menghindari tabrakan, teknologi ini akan memegang peran kunci dalam transportasi sekaligus menjadikan Amerika Serikat tetap sebagai pemimpin di industri otomotif dunia," kata Foxx.

Dalam teknologi V2V, kendaraan mendapat arus input data kecepatan dan lokasi dari kendaraan di sekitarnya.

Kendaraan dapat mengetahui risiko tabrakan dan mengingatkan pengemudi akan bahaya menabrak kendaraan di depan, pindah jalur, dan tabrakan di perempatan.

NHTSA dalam keterangan di laman web-nya mengemukakan sistem yang mereka kembangkan tersebut tidak mengambil alih operasi kendaraan seperti kemudi dan rem.

Teknologi V2V tidak merekam atau menyebarkan informasi pribadi. Sistem itu juga tidak melacak kendaraan.

Pada tahun 2012, Departemen Transportasi menguji coba teknologi V2V kepada 3.000 kendaraan.

V2V membuat pengemudi punya mata "360 derajat" dan dapat mengingatkan pengemudi tentang risiko tabrakan.

Misalnya, saat akan mendahului kendaraan di depan, selalu ada risiko tabrakan frontal dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Sistem V2V dapat mendeteksi kendaraan yang datang dari arah berlawanan dalam jarak ratusan meter dan belum terlihat pengemudi.

Teknologi tersebut akan mengingatkan pengemudi tentang kendaraan dari arah berlawanan sehingga risiko tabrakan dapat dicegah.